Membuka Hati

Senin, 16 Desember 2019
Hari Biasa, Pekan Adven III
Bacaan I     :  Bilangan 24: 2-7.15-17a
Bacaan Injil : Matius 21:23-27

SETIAP orang yang memiliki penglihatan normal pastilah dapat melihat. Hal ini terjadi karena bola mata menangkap setiap pantulan cahaya dari benda-benda yang ada. Namun, jika kita menutup mata kita tidak akan bisa melihat apa yang ada di sekitar kita karena cahaya tidak dapat masuk ke dalam bola mata kita. Ketika kita membuka mata, maka cahaya akan masuk, dan pantulan-pantulan cahaya dari benda-benda di sekitar kita pun membuat kita dapat melihat apa yang ada di hadapan kita.

Tokoh Yohanes Pembaptis memiliki peran yang signifikan untuk mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias. Hubungan antara dari semula pemberitaan injil sudah terkait amat erat. Kesaksian Yohanes sungguhlah menyiapkan jalan untuk Tuhan. Oleh sebab itu, kehadiran Yohanes tidak dapat disangkal.

Pertanyaan yang diungkap imam-imam kepala kepada Yesus adalah pertanyaan untuk mencobai, namun Yesus justru balik bertanya kepada imam-iman itu sebagai bentuk keterbukaan akan kehadiran-Nya yang adalah dari Allah. Dan pertanyaan yang diberikan Yesus itu menuntut suatu keterbukaan pada rencana Allah yang selalu berhubungan satu sama lain, utamanya terkait dengan kehadiran Yohanes. Namun nampaknya, para imam tidak memiliki keyakinan itu dan hatinya masih tertutup dengan rencana Allah.  Terang kemulian Tuhan yang sudah dimulai dari kesaksian Yohanes dan terjadi dalam diri Yesus pun tidak dapat mereka lihat.

Jawaban yang diberikan Tuhan atas segala pengalaman hidup kita menuntut kemauan kita untuk membuka hati terhadap rencana-Nya. Tuhan selalu mendengar dan menjawab doa kita, tinggal bagaimana kita menyadarinya, meyakininya dan membuka hati kita untuk menerima segala bentuk jawaban Tuhan. Namun jika hati kita tertutup, tidak mau percaya kepada kekuasaan Tuhan dan rencana-Nya yang agung, maka proses dialog  dengan Tuhan pun akan sulit untuk kita tangkap. Kita memandang doa-doa kita hanya satu arah, padahal dari awal Tuhan sudah berusaha menjawabnya. Sehingga akhirnya kita pun yang kita dengar hanyalah “Aku pun tidak mau mengatakan kepada kalian….”

[Fr. Albertus Aris Bangkit Sihotang]


Allah yang berbelas kasih, Engkau selalu menyatakan diri-Mu kepada kami lewat berbagai cara. Bantulah kami untuk selalu mau terbuka pada rancangan-rancangan mulia-Mu, meski pikiran kami yang terbatas ini terkadang tidak mampu memahaminya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.