Mari Terlibat!

Rabu, 18 Desember 2019
Hari Biasa Pekan III Adven
Bacaan I    : Yer. 23: 5-8
Mazmur      : Mzm. 72: 2.12-13.18-19
Injil       : Mat. 1: 18-24

SUATU siang, seorang ibu sedang memasak untuk pesta yang diselenggarakan di rumahnya pada malam hari. Anak sulungnya ingin sekali membantu, ia sudah melirik-lirik apa yang ibunya lakukan di dapur. Sayang sekali, ibunya tidak memperbolehkan anaknya untuk masuk ke dapur, tetapi anak itu bersikeras ingin membantu ibunya. Alhasil, sang ibu luluh dan menyuruh anaknya untuk mengambil semua bahan masakan dari kulkas. Si anak melakukan pekerjaannya dengan baik dan ia menanti tugas selanjutnya. Si ibu pun menyuruh anaknya tersebut untuk menjaga adiknya. Si anak tidak habis pikir apa hubungannya menjaga adik dengan memasak, namun dengan taat ia melakukannya. Ia belum mengerti bahwa dengan menjaga adiknya agar tidak rewel, ia telah membuat ibunya merasa tenang dan fokus untuk memasak.

Hari ini kita telah memasuki pekan Adven yang ketiga. Injil hari ini berbicara tentang asal Yesus yang sesungguhnya, yakni dikandung dari Roh Kudus, dan bagaimana Yusuf menanggapi peristiwa tersebut. Maria sudah ditunangkan dengan Yusuf, namun masih tinggal di rumah orang tuanya. Yusuf merasa kaget terhadap kehamilan Maria yang sama sekali belum ia sentuh. Dalam kasus seperti itu, Yusuf dapat menyeret Maria ke pengadilan untuk proses pemeriksaan perzinaan. Akan tetapi, Yusuf tidak mau melakukan itu karena tidak mau mencemarkan nama tunangannya. Yusuf memilih cara yang tidak publik agar tidak diketahui banyak orang, yakni menceraikan Maria diam-diam. Rencananya gagal karena Allah berkehendak lain, melalui perantaraan malaikat dalam mimpinya, Yusuf diperintah oleh Allah untuk membawa Maria ke rumahnya dan memberi nama Yesus kepada Anak yang akan lahir dari Maria. Yusuf melakukan perintah tersebut dengan baik, karena pada dasarnya ia adalah orang benar dan tulus hati.

Dengan melakukan kedua perintah Allah tersebut, sadar tidak sadar Yusuf telah turut terlibat dalam rencana keselamatan Allah dalam wujud kelahiran Yesus. Awalnya, Yusuf sama seperti seorang anak dalam kisah di atas yang tidak mengerti apa yang dilakukan dan tidak tahu bahwa yang telah dilakukan termasuk partisipasi dalam suatu rencana yang besar. Dalam menyambut kelahiran Yesus, kita dapat mencontoh Yusuf dalam hal belas kasih dan kesetiaan. Kita perlu terlibat juga dalam menyongsong kelahiran Yesus yang sebentar lagi akan tiba dengan berbelas kasih kepada sesama yang membutuhkan dan tetap setia pada kehendak Allah. Kita dapat menanggapi perintah Allah dengan tulus hati, seperti yang Yusuf lakukan. Perintah Allah dapat kita temukan di dalam Kitab Suci, ajaran Gereja, dan tradisi-tradisi iman.

Sebagai orang beriman, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah terlibat dalam karya keselamatan Allah? Karya keselamatan Allah bersifat universal, artinya tidak terkecuali dan tidak pandang bulu. Kita dapat terlibat dalam karya keselamatan Allah dengan membantu sesama kita agar selamat juga, yakni dengan pertolongan dan perhatian yang berbelas kasih dan tulus. Semoga dengan keteladan Yusuf, kita semakin dapat terlibat dalam karya keselamatan Allah dan semakin siap menyambut Yesus yang akan lahir ke dunia. Mari terlibat!

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Allah Bapa yang maha baik, kami bersyukur atas karya keselamatan-Mu yang membebaskan. Semoga dengan meneladan Santo Yusuf yang taat pada rencana-Mu, kami pun dapat menanggapi semua rencana-Mu dengan penuh keterbukaan dan kesungguhan untuk menjalaninya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.