Makna Baru Penderitaan

  • Masa Biasa
  • Bacaan 1          : Yak. 2:1-9
  • Mazmur           : Mzm. 34:2-3,4-5,6-7
  • Injil                  : Mrk. 8:27-33

Para saudara yang terkasih, ada dua peristiwa yang bertolak belakang yang terjadi dalam momen yang bersamaan. Yesus mengafirmasi perkataan Petrus mengenai siapa diriNya dan memarahi Petrus karena tegurannya mengenai apa yang harus dilakukan Mesias. Yang dilakukan Petrus mungkin sama seperti yang dilakukan oleh kita, bahwa kita tidak ingin orang yang kita hormati menderita, tetapi Yesus ingin memberikan pemahaman baru mengenai penderitaan. Yesus marah kepada Petrus karena ia masih dihantui rasa takut dan menggunakan kehendak manusia. 

Kata Iblis yang diutarakan Yesus itu mau menunjukkan bahwa ada perbedaan yang begitu besar antara kehendak manusia dengan kehendak Allah. Kehendak manusia lebih mengupayakan sesuatu yang dapat menghindari penderitaan, karena sudah menjadi hal yang lumrah bahwa manusia menghindari penderitaan. Tetapi, Allah berkehendak lain perihal menghadapi penderitaan ini. Penderitaan itu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahwa kita hidup dalam dua kutub ekstrim adalah sesuatu yang dialami dalam hidup sehari-hari. Di mana ada penderitaan, di situ ada kesenangan. Ada kebaikan, ada kejahatan. Alih-alih sibuk menghindari penderitaan, alangkah baiknya kita memeluk penderitaan itu dengan melihatnya dari sisi yang lain, sisi yang membuat kita semakin kuat dan tangguh dalam menjalani hidup. 

Yesus memberi teladan dalam menghadapi, mengerti, menyikapi, dan mengalami penderitaan. Pada akhirnya, jika kita sungguh-sungguh dan setia dalam mengikuti Yesus, menjalankan amanat-Nya, dan senantiasa belajar darinya, kita dapat melihat sebuah kesalahan, penderitaan, dan hal-hal yang kita hindari sebagai sebuah edukasi tetapi berbeda warna. Bukan tidak mungkin kita dapat keluar dari dua kutub ekstrim dengan melihat salah satu kutub yang kita hindari dengan cara yang berbeda, dengan cara yang bisa kita terima, dengan cara yang membuat kita semakin menyadari bahwa hidup ini sungguh bermakna. 

Fr. Michael Randy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.