Verba Docent, Exempla Trahunt

Rabu, 11 Maret 2020, Pekan II Prapaskah 
Bacaan I  : Yer. 18: 19-20
Mazmur    : Mzm. 31: 5-6.14.15-16
Injil     : Mat. 20: 17-28 

ADA beragam pemimpin di dalam kehidupan kita. Mulai dari pemimpin negara, pemimpin agama, pemimpin organisasi, dan lain-lain. Wibawa seorang pemimpin nyata dirasakan dan dilihat oleh para anggota atau orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Tak jarang juga ada pemimpin yang mendapat kritikan pedas bahwa hanya ia hanya bisa ngomong doang—hanya bisa berpidato, tapi kerjanya nihil.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan wibawa kepemimpinannya. Yesus tidak seperti pemerintah bangsa-bangsa yang memerintah rakyat dengan tangan besi. Yesus tidak juga seperti pembesar-pembesar yang menjalankan kuasanya dengan keras. Yesus memimpin dengan kasih sayang nan lembut. Yesus memahami bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah menempatkan diri di atas, namun justru di bawah bersama orang-orang kecil. Yesus menuntun manusia untuk dapat menuju Allah melalui pelayanan-Nya. Dengan demikian, tidak hanya kata-kata saja yang Ia ajarkan, namun ada tindakan konkret yang ditunjukkan.

Ada sebuah peribahasa Latin berbunyi “verba docent, exempla trahunt” yang artinya kata-kata yang mengajar, tindakan yang memberi teladan. Peribahasa tersebut cocok disematkan pada diri Yesus. Kepemimpinan Yesus tidak hanya dengan sabda-sabda yang penuh makna, namun dilengkapi dengan pelayanan kepada orang kecil, lemah, dan tersingkir. Pada zaman sekarang, makna kepemimpinan banyak disalah artikan menjadi seorang ‘bos’ yang harus dilayani ini itu, atau menjadi seorang diktator yang memberikan perintah. Belajar dari Yesus, menjadi pemimpin berarti mau melayani banyak orang, sehingga membawa kebaikan pada orang tersebut. Orang-orang yang ada di bawah kekuasaan bukanlah komoditas yang dapat diperalat dan digunakan sesuka hati, melainkan orang yang harus dilayani dan diperjuangkan kepentingannya dengan sepenuh hati.

Dengan belajar dari Yesus, kita melihat bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin, namun tidak memahami apa yang menjadi tugas dasar seorang pemimpin, yaitu melayani. Tidak perlu ada upacara khusus, atau pelantikan khusus untuk dapat mengikuti teladan kepemimpinan Yesus. Kita sebagai anak-anak-Nya dapat memulai kepemimpinan dengan melayani orang-orang terdekat dan menjalankan apa saja yang telah dipercayakan dengan mental menjadi seorang pelayan. Semoga kita semakin dapat membantu orang menuju kepada Allah.

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Allah Bapa, patutlah segala puji dan syukur kami haturkan kepada-Mu, sebab hanya Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu. Semoga kami mampu menggunakan semua yang Engkau percayakan kepada kami bukan untuk disombongkan, melainkan sebagai alat untuk melayani dan menuntun sesama menuju kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.