Salus Animarum Suprema Lex

Rabu, 18 Maret 2020, Pekan III Prapaskah 
Bacaan I  : Ul. 4: 1.5-9
Mazmur    : Mzm. 147: 12-13.15-16.19-20
Injil     : Mat. 5: 17-19

DI suatu desa yang baru saja dimekarkan, terdapat banyak jalan raya dengan rute yang baru. Pembangunan di desa itu belum selesai sepenuhnya. Suatu hari, seorang pemuda berkendara di jalan itu pada waktu malam hari. Saking kosongnya jalanan, ia memacu kendaraannya dengan kencang. Sewaktu menyalip suatu mobil, ia kaget bukan main karena dari arah berlawanan ada sebuah truk besar. Hampir saja ia bertabrakan dengan truk tersebut. Ia bingung mengapa ada truk dari arah yang berlawanan karena ia pikir sedang berada di jalan searah. Ternyata jalan itu bersifat dua arah, namun garis markanya belum selesai dibuat.

Injil hari ini menceritakan Yesus yang bertentangan dengan Ahli Taurat. Sebagian orang menganggap Yesus telah menghilangkan makna hukum Taurat karena sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum Taurat. Padahal maksud Yesus bukanlah meniadakan hukum Taurat dan tidak mengikutinya secara buta juga, tetapi menggenapinya. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, Yesus berpesan agar tidak meniadakan salah satu peraturan dalam hukum Taurat sekalipun yang paling kecil. Hal tersebut menandakan Yesus tidak anti terhadap hukum Taurat.

Hukum atau peraturan sering dipandang sebagai sesuatu hal yang kaku dan menakutkan. Hukum dapat digunakan untuk menyalamatkan orang, namun dapat juga mencelakakan orang, tergantung motivasi orang menggunakan hukum. Hukum juga mengatur hal yang harus dilakukan dan hal yang tidak boleh dilakukan. Dari sekian banyak pengertian tentang hukum, yang harus utama adalah pelaksanaan hukum tersebut. Tepat di situlah, Yesus mengkritik Ahli Taurat dan orang Farisi yang menjalankan secara ketat hukum Taurat tanpa memperhatikan orang lain yang menderita. Hukum Taurat dijalankan demi hukum itu sendiri, bukan demi nilai lain yang lebih tinggi seperti kemanusiaan dan kasih.

Yesus mengajak kita untuk memahami lebih luas hukum-hukum yang ada di lingkungan masyarat, negara, tempat kerja, bahkan Gereja. Hukum-hukum tersebut mempunyai fungsi yang baik, sebab tanpa aturan, kehidupan bersama bisa menjadi kacau balau. Jika melakukan hukum demi hukum itu sendiri, maka kita taat bukan karena sungguh memahami esensi dan tujuan dari hukum tersebut, melainkan hanya karena takut terkena sanksi. Padahal, hukum utamanya dibuat untuk keselamatan dan cara menjalankannya adalah dengan kasih.

Ada peribahasa Latin mengatakan “salus animarum suprema lex”, yang artinya keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum yang utama. Aturan-aturan dibuat untuk membantu orang-orang menuju keselamatan, bukan sebaliknya malah mencelakakan orang lain. Semoga di masa prapaskah ini kita semakin dapat menuju keselamatan melalui hukum Allah sendiri, yakni kasih.

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Allah Bapa yang bertakhta dalam Kerajaan Surga, kami bersyukur sebab Engkau demikian dekat dengan kami hingga Engkau berkenan memperlihatkan keadilan-Mu bagi kami. Semoga kami mampu menjalankan semua ketetapan-Mu dengan setia, sehingga Sabda-Mu pun menjadi sumber kebijaksanaan yang mendasari seluruh tindakan kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.