Santo Yusuf, Sosok Ayah Ideal

Kamis, 19 Maret 2020 
Hari Raya St. Yusuf, Suami St. Perawan Maria
Bacaan 1  : 2Sam. 7:4-5a,12-14a,16
Mazmur    : Mzm. 89:2-3,4-5,27,29
Bacaan 2  : Rm. 4:13,16-18,22
Injil     : Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a

MANUSIA, sepanjang hidupnya, memiliki tujuan ideal yang hendak dicapai. Tujuan yang hendak dicapai ini diterjemahkan oleh para kaum muda sebagai istilah ‘goals’. Beberapa dari kita pun tidak asing lagi dengan istilah-istilah seperti body goals, relationship goals, holiday goals, dan sebagainya. Kehidupan para figur publik yang dilihat di media sosial pun sering diasosiakan dengan ‘goals‘ ini. Walaupun fenomena tersebut bisa membuat seseorang terjebak dalam keinginan, atau bahkan obsesi untuk memiliki kehidupan seperti idolanya, tidak ada salahnya kita menggunakan cara pandang ini untuk mengetahui arah dan tujuan kita. Dalam hal ini, Santo Yusuf bisa disebut sebagai ‘daddy goals’; ia mencerminkan figur seorang ayah yang sungguh ideal dan berkualitas.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Yusuf, Suami Maria. Sepanjang hidupnya, Santo Yusuf merupakan sosok yang rendah hati, tulus, sederhana, setia, yakin dan percaya akan kehendak Allah. Posisinya sebagai ayah asuh dari Yesus tidak membuatnya mengurangi rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Yesus. Malahan, ia bersama Bunda Maria membangun keluarga yang dijadikan model keluarga ideal bagi seluruh keluarga. Ia sungguh-sungguh menjadi sosok ayah yang baik bagi Yesus dan suami yang baik bagi Bunda Maria walaupun ia memiliki komitmen untuk tidak memiliki anak lagi selain Yesus. Panggilannya sebagai kepala keluarga dalam keluarga kudus dijalankannya dengan baik. Walaupun kisah kematiannya tidak diketahui secara pasti, pastilah ia meninggal dengan bahagia karena istri dan anaknya senantiasa berdoa, membantu, dan menghiburnya di saat terakhirnya.

Santo Yusuf pantas dinobatkan sebagai ‘daddy goals’, figur seorang bapak yang baik bagi para keluarga maupun pemuda yang ingin menjalani hidup panggilan sebagai seorang ayah. Walaupun merupakan ‘daddy goals’, kita tentu tidak perlu meniru Santo Yusuf mentah-mentah, contohnya tidak perlu mengulangi kisah hilangnya Yesus di Gereja demi mengikuti perilaku Santo Yusuf. Kita bisa meneladani sifat-sifat yang dilakukan oleh Santo Yusuf dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan menjadikan Santo Yusuf sebagai ‘goals’ dalam hidup, kita dapat membawa semangat positif dalam diri Santo Yusuf ke dalam hidup kita dan menjadikannya sebagai pemacu langkah kita untuk terus berjalan dalam kehendak Allah.

[Fr. Michael Randy]


Allah yang penuh kasih, sungguh besar kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada manusia turun-temurun. Dengan teladan Santo Yusuf, umat yang Engkau pilih untuk menjadi pengayom Putra-Mu di dunia, semoga kami pun dapat mengikuti jejaknya. Semoga kami pantas menjadi abdi-Mu yang setia sepanjang hidup kami, sehingga kelak kami pun beroleh kebahagiaan abadi bersama Yesus, sebab Ia-lah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.