Hanya Datang Kalau Butuh

Sabtu, 21 Maret 2020
Hari biasa pekan Prapaskah III
Bacaan I : Hos 6:1-6                                                                            
Bacaan Injil : Luk 18:9-14

ISTILAH ‘datang kalau ada maunya saja’ sangat lazim dalam dunia pertemanan kita. Loyalitas seorang sahabat dipertanyakan ketika ia datang hanya saat dalam keadaan susah atau ada yang dibutuhkan saja. Menjadi buah bibir ketika persahabatan diukur secara pragmatis, ‘berteman baik sejauh itu bermanfaat atau menguntungkan bagiku’. Kita juga dapat merenungkan kembali tentang hubungan kita dengan Allah berkaitan dengan hal ini: apakah kita datang pada Allah saat kita sedang susah saja?

Berdoa adalah kegiatan yang paling signifikan bagi orang beriman. Tapi, apa jadinya bila kita berdoa hanya ketika kita punya keperluan yang mendesak saja? Berjumpa dengan Allah seolah menjadi opsi yang ke sekian. Misalnya ketika saya putus asa saya baru berdoa, ketika saya ingin membeli sesuatu saya baru berdoa, ketika saya tidak bisa tidur saya baru berdoa, dan lain-lain. Bila dipikirkan dari sudut pandang manusia, rasanya sungguh malang bila Allah setiap hari hanya mendengar keluh kesah negatif dari kita saja. Kadang saya membayangkan ketika peristiwa yang sama terjadi pada saya. Seorang sahabat yang hanya selalu bercerita tentang segala hal negatif dalam hidupnya, padahal perjumpaan yang saya inginkan bukanlah yang didominasi kekelaman semacam ini. Perjumpaan itu justru diharapkan senantiasa membawa sukacita, seperti kisah Maria ketika menjumpai Elisabet saudarinya, hingga bayi dalam kandungannya saja melonjak kegirangan (Luk 1:41).

Dalam dunia persahabatan, berbagi keluh kesah bukan menjadi hal yang dilarang. Malah, keterbukaan akan hal-hal negatif bisa menjadi faktor yang mempererat keakraban. Tetapi jangan sampai setiap perjumpaan diisi dengan keluh kesah itu aja. Sama halnya juga pada relasi kita dengan Bapa. Walaupun DIA sudah lebih dahulu berjanji “Marilah datang kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28), kita perlu ingat juga bahwa doa itu seyogyanya menjadi ungkapan rasa syukur, seperti doa yang diajarkan Yesus kepada kita. Dalam rumusan doa itu, sukacita, kegembiraan, rasa syukur dan permohonan menjadi kekayaan tersendiri (lih. Luk 11:2, Mat 6:9).

Kisah dalam Injil Lukas hari ini membantu kita untuk semakin kuat dalam menjalani masa Prapaskah. Sosok orang Farisi dan pemungut cukai sangat relevan dalam hidup rohani kita. Dalam hal berdoa, orang Farisi memperlihatkan kesombongan, sedangkan pemungut cukai mengambil sikap rendah hati. Kesombongan menuntun manusia pada kecenderungan untuk merebut kekuasaan atas hidup dari Allah. Padahal, pikiran manusia tidak akan pernah bisa disandingkan dengan kebijaksanaan Allah. Manusia seringkali begitu cepat menentang kehendak Allah yang dinilainya irasional, padahal memang cara Allah tidak mudah untuk ditangkap oleh daya berpikir manusia (bdk. Mat 5:4, Luk 23:34, Mat 5:39).

Saudara-saudari yang terkasih, pada masa Prapaskah ini, hendaknya sebelum berdoa kita sadari dengan rendah hati akan dosa dan kesalahan yang kita perbuat (Mat 11:25). Sama halnya yang kita lakukan dalam perayaan Ekaristi, “…Marilah kita menyadari kesalahan dan dosa kita agar layak mengikuti perjamuan ini…” (pernyataan tobat). Kehadiran Yesus ke dunia bukan semata-mata karena kebutuhan kita. Cinta sejatilah yang menggerakkan diri-Nya melampaui nilai-nilai manusiawi. Bermanfaat di mata manusia atau tidak, bukan menjadi persoalan. Ia tetap menawarkan keselamatan-Nya kepada semua. Kepercayaan pun diserahkan kepada kita masing-masing yang menanggapi. Oleh karena itu, kehendak bebas yang dianugerahkan Tuhan pada kita haruslah senantiasa disertai kerendahan hati, sehingga dapat menghasilkan kebijaksaaan sejati.

[Frater Petrus Damianus Kuntoro]


Allah yang bertakhta dalam Kerajaan Surga, ampunilah kami yang masih sering memandang rendah pada sesama kami, dan bahkan menantang kuasa-Mu. Terimalah tobat dan karya kami, supaya hidup kami sungguh dapat menjadi persembahan yang berkenan bagi-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: