Tanpa Melihat pun Percaya

Rabu, 29 April 2020, Pekan III Paskah

Bacaan I          : Kis. 8: 1b-8

Mazmur           : Mzm. 66: 1-3a. 4-5. 6-7a

Injil                  : Yoh. 6: 35-40

 

Suatu hari, hiduplah  seorang anak yang tinggal bersama dengan nenek di suatu rumah bersebelahan dengan suatu ruko tua (rumah toko yang sudah kosong). Setiap pulang sekolah, anak itu akan berlari melewati ruko itu untuk menuju ke rumahnya. Anak itu sangat takut karena ruko itu terkenal angker. Ia mendengar cerita-cerita horror dari teman-sekolahnya. Padahal selama tinggal di rumahnya, ia belum pernah mengalami kejadian seram atau bertemu hantu. Suatu kali, ia menendang bola terlalu keras hingga masuk ke pekarangan ruko tua itu. Dengan penuh ketakutan ia mengambil bola itu, lalu berlari ke rumahnya sambil berteriak-teriak.

Pesan Yesus dalam Injil hari ini memuat dua kata penting, yakni percaya dan melihat. Yesus mengkritik orang-orang yang telah melihat Yesus secara langsung, bahkan sempat hidup bersama, namun tidak percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat. Sebaliknya, orang yang melihat Yesus lalu percaya akan diberi kehidupan kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman. Artinya ada suatu jaminan yang akan diberikan ketika percaya kepada Yesus, yakni kehidupan kekal.

 

Seperti kisah di atas, orang-orang mudah percaya pada hal negatif walaupun tidak melihatnya secara langsung, sehingga hoax dan cerita horror menjadi masuk akal dan laku. Orang mudah percaya terhadap hal yang sensasional dan heboh, walaupun tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Percaya dan melihat merupakan dua kata yang bisa saling terkait. Melalui penglihatan orang dapat percaya terhadap suatu hal karena memiliki bukti yang konkret dan nyata. Bukti konkret dan fisik tersebut biasanya didasarkan pada panca indra. Konteks ‘melihat’ dalam Injil hari adalah denag mata telanjang. Atau di sisi lain, tanpa melihat pun orang dapat percaya karena sudah mendengar cerita-cerita dari orang lain, sehingga tidak butuh bukti konret lagi.

 

Yesus ingin mengartikan kata ‘melihat’ tidak hanya sebatas cara mengetahui sesuatu dengan mata, sehingga kita tahu suatu benda secara fisikal. Kata ‘melihat’ yang dimaksud Yesus adalah melihat secara spiritual bahwa Dia hadir dan hidup di tengah-tengah kita. Kita tidak butuh bukti bahwa telah melihat Yesus yang konkret dan fisik karena kita telah melihat-Nya di dalam Kitab Suci, doa, dan tindakan. Jika saja kita mudah percaya terhadap hal negatif tanpa bukti fisik, mengapa kita sulit percaya terhadap hal positif tanpa bukti fisik juga? Semoga kita semakin percaya bahwa Yesus yang bangkit hadir di hati kita, di tengah-tengah kita, dan di dunia ini. Fr. Ignatius Bahtiar.

 


 

Ya Tuhan, ampunilah kami yang sering tidak percaya kepada Engkau. Bantulah kami agar semakin menyadari kehadiran-Mu yang mewujud dalam banyak hal. Semoga kami semakin beriman dan dapat melihat Engkau lewat doa-doa dan tindakan kami.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: