Tahu Belum Tentu Kenal

Sabtu, 9 Mei 2020

Hari Biasa Pekan Paskah IV

Bacaan I  : Kis 13: 44-52                                                                              

Bacaan Injil : Yoh 14:7-14                                                     

Seekor ikan yang berenang-renang di samudera yang luas bertanya kepada dirinya sendiri, “di manakah air berada?” Saudara-saudariku yang terkasih dalam Yesus Kristus, manusia adalah makhluk rasional. Manusia selalu mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dunia(realitas) ini. Manusia sebagai makhluk spiritual juga senantiasa bertanya mengenai keberadaan Allah. Secara ilmiah bila indea kita melihat ke dalam mikroskopik ada ruang hampa yang tidak terdeteksi. Begitu juga bila dilakukan secara makroskopik.  Yang menarik adalah pengertian filsafat timur mengenai ‘kosong adalah penuh, penuh adalah kosong’. Pencapaian intelektual manusia sampai pada batasnya. Pencarian secara intelektual akan terhenti ketika objek indra tidak bisa mengindentifikasi. Spirituallah yang menjadi tawaran dalam hal ini. Dengan syarat spiritualitas itu harus rasional.

Filipus adalah murid yang cukup cerdas, namun kepekaan spiritualnya belum sempurna sehingga ia bertanya, “Tuhan, tunjukanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”(ay 8) Dalam refleksi saya pertanyaan Filipus sama dengan pertanyaan ikan dalam cerita di atas. Pengenalan Filipus kepada Yesus hanya berdasarkan desas-desus yang selaras dengan kitab Taurat. (Yoh 1:45)  Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus. identitas Yesus menjadi buah permenungan yang penting dalam masa Paskah ini. Orang Kristen telah menjadi satu dengan Yesus Kristus dalam baptisan. Maka sudah seharusnya mengenal-Nya secara baik. Selalu bersama dalam perjamuan kudus-Nya(ekaristi), selalu berdoa dan memohon dalam nama-Nya, selalu menjadi teman sharing dalam setiap suka dan duka, tetapi masih bertanya, “di mana Allah Bapa berada?” Sungguh ironis.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam masa Paskah ini kita diperkaya dengan kesempatan untuk dekat dan lebih mengenal Bapa. Rasa syukur sejatinya harus muncul di tengah pademi ini, bahwasanya orang Kristen dianugerahi pengenalan akan Allah Bapa melalui Putera-Nya yang terkasih yaitu Yesus Kristus. Lewat kesaksian para Rasul(Kitab Suci), lewat tradisi, lewat pengajaran (magisterium) kita dapat mensyukuri anugerah ini. Terlebih lagi rahmat baptisan yang kita terima menganugerahi Roh Kudus yang membuka cakrawala berpikir kita untuk sampai pada Bapa. Mari kita merenungkan kembali dalam hati kita masing-masing apakah kita masih belum mengenal Allah? apakah dalam setiap aktivitas religius kita, masih muncul pertanyaan: di mana Allah?

 

[Frater Petrus Damianus Kuntoro]

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.