Mendengarkan dan Menyadari Apa yang Kita Butuhkan

Senin, 15 November 2021

PEKAN BIASA XXXIII (H).

St. Albertus Agung, UskPujG.

1Mak. 1:10-15.41-43.54-57.62-64;

Mzm.119:53.61.134.150.155.158;

Luk. 18:35-43

Hari ini kita mendengar Injil mengenai seorang buta yang memanggil-manggil Yesus agar ia dapat disembuhkan. Melalui bacaan Injil tersebut kita diingatkan perihal memohon dalam setiap doa-doa kita kepada Tuhan.

            Berdoa merupakan hal yang umum dan kerap kita lakukan dalam keseharian kita. Doa dapat dilakukan entah pada pagi hari sebelum memulai segala aktifitas kita, sebelum dan sesudah makan, sebelum beristirahat, dan lain-lain. Dapat dikatakan doa merupakan suatu yang kerap kita lakukan dalam keseharian kita. Namun apa yang telah kita doakan?

            Disadari ataupun tidak dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan kerap kali kita memohon sesuatu yang “egois.” Tanpa kita sadari kita kerap memohonkan sesuatu demi kepentingan kita sendiri. Kita mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita sendiri dan kita lupa menentukan hal yang paling penting bagi kita. Oleh karena itu, kita terkadang memohon segala hal demi keinginan pribadi.

            Melalui Bacaan Injil hari ini kita diingatkan agar tidak sungkan memohon kepada Tuhan, namun memohon hal yang paling kita butuhkan. Jangan sampai kita memohonkan hal-hal yang belum kita perlukan.

            Perlu diingat bahwa doa bukan semata-mata persoalan memohon. Doa merupakan komunikasi dua arah, yang berarti kita harus memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk dapat berbicara pada diri kita. Karenanya kita perlu belajar untuk mendengarkan apa yang coba Tuhan sampaikan kepada kita dalam segala doa yang kita panjatkan. Kita perlu belajar untuk mendengarkan suara Tuhan sehingga kita dapat dengan sungguh menyadari apa hal yang sungguh kita butuhkan dalam hidup kita sehari-hari. Melalui hal tersebut kita dapat merasakan rahmat kasih Allah yang melimpah dalam hidup kita, di mana Allah membentuk kita dalam setiap langkah hidup kita di dunia ini. Tuhan memberkati.

Fr. Dismas Aditya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.