Rekoleksi Sinode Para Uskup Paroki BMV Katedral – Bogor

Rangkaian kegiatan Sinode Para Uskup tingkat parokial terus berlanjut. Kali ini kegiatan rekoleksi sinode dilaksanakan di Paroki Beatae Mariae Virginis (BMV) Katedral-Bogor pada hari Minggu (14/11/2021) pagi hingga sore. 

Bertempat di Aula BPK Paroki BMV Katedral-Bogor, kegiatan diawali dengan briefing oleh tim panitia pengarah dan tim fasilitator bersama tim SC dan OC yang dihadiri oleh RD Yosef Irianto Segu, Sr Dorothea, Bapak Anton Sulis, Bapak Agus Muhardi, Ibu Yanti Christ, Ibu Rini dan lainnya untuk mempersiapkan rekoleksi hari ini dan pembagian kelompok pada pukul 09.30 WIB lalu dilanjutkan kegiatan foto bersama sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan. Tercatat ada kurang lebih 114 orang peserta yang menghadiri rekoleksi Sinode pada hari ini. 

Dalam sambutannya, RD Paulus Haruna selaku Pastor Paroki BMV Katedral-Bogor mengatakan agar semua peserta dapat mengikuti secara sungguh-sungguh untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan sinode yang dilaksanakan pada hari ini. 

RD Yohanes Suparta selalu Ketua Umum Sinode Para Uskup Keuskupan Bogor mengatakan dalam sambutannya bahwa sinode dilaksanakan sebagai sebuah perjalanan bersama yang melibatkan semua umat beriman. Proses ini menjadi istimewa karena Bapa Paus Fransiskus ingin perjalanan bersama ini dilakukan dengan konsep doa dan rekoleksi yang dilakukan untuk mendengarkan Roh Kudus dalam perjalanan bersinodal. 

Menghidupkan Semangat Jalan Bersama 

Disampaikan pula oleh Ibu Rini dalam sesi pengantar bahwa rekoleksi dimaksudkan untuk menghidupkan semangat “Jalan Bersama” yaitu menyegarkan iman umat dan untuk menguatkan semangaga sebagai “teman seperjalanan” bagi umat lain. Rekoleksi mengingatkan bahwa karya penyelamatan Tuhan bekerja dalam himpunan keluarga umat Allah-bukan orang per orang. 

Membuka diri terhadap Roh Kudus juga merupakan tujuan dalam rekoleksi diadakan. Rekoleksi menjadi saat untuk membiarkan diri untuk dibimbing dan mendengar Roh Kudus, melepaskan dominasi otak/pikiran, memberi ruang lebih pada suara hati. 

Selain itu, mengambil peran dalam upaya pengembangan Gereja Katolik juga menjadi tujuan rekoleksi yang dimaksudkan untuk memberi ruang pada setiap orang untuk berpartisipasi. Yaitu terlibat, menemukan, menyampaikan hal baik demi perkembangan Gereja baik di tingkat keuskupan maupun universal. 

Transformasi Pelayanan Gereja

Kegiatan dilanjutkan dengan narasi refleksi yang dibawakan oleh Bapak Ari selaku fasilitator. Tema yang direnungkan adalah Transformasi Pelayanan Gereja. Peserta diajak untuk merefleksikan kembali tantangan dalam pelayanan di Gereja dan melakukan pertobatan terus menerus dan melakukan upaya perubahan atau transformasi ke arah kebaikan. 

Setelah sesi narasi refleksi peserta berdoa dan melakukan renungan pribadi dengan berdoa untuk memohon bimbingan dari Roh Kudus. Kemudian peserta masuk ke dalam kelompoknya masing-masing untuk menyampaikan sharing mengenai apa yang menjadi permenungan selama ini tentang Transformasi Pelayanan Gereja. 

Sharing dibuka dan ditutup dengan doa. Kelompok yang sudah terbentuk diarahkan menuju ruangan yang sudah dibagi sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Sesi sharing berjalan dengan lancar dan ditanggapi secara antusias oleh para peserta rekoleksi sinode. 

Setelah masing-masing peserta menyampaikan sharing, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang dan kemudian kembali melanjutkan proses sharing. Kemudian dilanjutkan dengan sesi peneguhan bagi para peserta oleh RD Yosef Irianto Segu. 

Sebuah Peneguhan Untuk Berjalan Bersama 

Dalam sesi peneguhan yang disampaikan, dikatakan bahwa rekoleksi yang dilakukan pada hari ini adalah menghidupkan semangat “Jalan Bersama”, bahwa dari pengalaman sharing yang dilakukan, kita itu berbeda (karunia, pengalaman, pemikiran) tetapi harus disadari bahwa kita disatukan dalam keluarga umat beriman yang sama yang dikepalai oleh Yesus Kristus. 

Lebih lanjut, RD Yosef Irianto Segu mengatakan bahwa setiap orang ternyata diperlengkapi dan dilayakan untuk ambil bagian dalam keluarga umat beriman ini. Jadi setiap umat hendaknya mensyukuri setiap karunia yang dimiliki seraya terus berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi Gereja. Dari pengalaman sharing dengan mendengarkan kesaksian, pengalaman, dan sharing orang lain kita dapat menjumpai Tuhan dan mengalami pencerahan. 

Selain itu mendengarkan Roh Kudus merupakan proses yang kita alami saat rekoleksi ini. Diyakini bahwa Roh Kudus lah yang menuntun setiap umat untuk sharing selama rekoleksi. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah: apakah kita selalu mendengarkan bimbingan Roh Kudus dalam hidup keseharian kita? 

Paus Fransiskus mengajak kita untuk terus mendengarkan Roh Kudus dalam hidup sehari-hari, karena disanalah akan tumbuh berbagai kehidupan. 

Pada akhirnya, kita dibawa kepada sebuah kesadaran melalui pertanyaan-pertanyaan dalam rekoleksi bahwa kita perlu mengambil peran nyata dalam hidup menggereja dan ini merupakan konsekuensi baptisan yang kita terima. 

Serta setia menjadi saksi keselamatan Kristus yang tidak boleh berputus-asa dan terus berjuang untuk setia dalam karya-karya baik yang bisa kita lakukan. Karena kesetiaan pada karya yang baik berarti juga kesetiaan kepada Kristus Sangat Sumber Kebaikan. 

Rekoleksi sinode ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh RD Yohanes Suparta, RD Paulus Haruna, dan RD Yosef Irianto Segu. 

Dalam homilinya, RD Yohanes Suparta mengatakan bahwa Injil hari ini ingin mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan kita harus terarah kepada Tuhan. Kita diajak bahwa hal-hal yang terjadi pada diri kita merupakan campur tangan Tuhan agar kita mau menumbuhkan harapan dan mau mengikuti Roh Kudus untuk menuntun arah hidup kita kepada Tuhan. 

“Ada kalanya kita tidak mendengarkan Roh Kudus tapi Roh Kudus selalu memiliki jalan untuk mengarahkan kita kembali kepada Tuhan. Dalam doa sinode pun kita diajak untuk menyadari bahwa kita sebagai manusia itu lemah dan kadang salah mengambil tindakan sehingga memengaruhi tindakan kita. Tapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memiliki kesadaran dan memohon Roh Kudus untuk menuntun kita kembali untuk hidup bersama Kristus dan membangun kesadaran untuk kembali ke arah kebenaran. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang mau diperbarui dan digerakan oleh Roh Kudus untuk membawa kita kepada kebaharuan untuk diri sendiri, masyarakat sekitar dan kepada Tuhan. Dengan demikian kita menghayati hidup kita yang tertuju kepada Allah yang mau bertransformasi ke arah kebaikan,” Tutur Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.