Mewartakan dan Mewujudkan Kerajaan Allah di Dunia

Jumat, 03 Februari 2022

Pekan Biasa IV

Bac I. Sir 47:2-11;

Mzm 18:31,47,50,51;

Mrk 6:14-29

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita mendengarkan kisah Daud di akhir ajalnya berpesan kepada anaknya, nasihat yang baik saat menjalankan kerajaan sebagai seorang raja. Salomo dinasihati supaya kelak saat menjadi raja tetap menjalankan ketetapan Tuhan dan hukum-Nya, pun juga mampu setia pada Allah. Salomo diminta untuk bersikap ksatria dan menguatkan hatinya saat memimpin kerajaan. Dalam bacaan Injil hal  yang senada diucapkan oleh Yesus namun dalam konteks yang berbeda yakni sebagai seorang murid. Ia mengutus murid-murid-Nya sambil bertutur soal beberapa hal pertama soal kelekatan, kedua soal penolakan, ketiga soal berhasil atau tidaknya suatu perutusan dikembalikan kepada Allah.

Baik antara keduanya menggambarkan bagaimana kualitas atau syarat yang harus dipenuhi dalam pelayanan sebagai bagian dari umat Allah bahkan murid Tuhan sendiri. Tuhan memanggil dan mengutus siapa saja untuk menjadi pelayan-Nya. Panggilan dan perutusan Tuhan inilah yang perlu dijawab dan ditanggapi sebagaimana yang bisa ditiru dari Bunda Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1,38). Secara radikal, mengikuti model pemuridan Bunda Maria menjadi murid Kristus berarti mencintai Kristus berarti pula turut ambil bagian dalam penderitaan Kristus, salib. Murid yang baik adalah murid yang selalu membangun komunikasi dengan Gurunya. Ia selalu mau mendengarkan-Nya, bercerita dan melakukan sesuatu sebagaimana Guru-Nya lakukan.

Setiap orang Kristen adalah murid Kristus. Sebagaimana diceritakan dalam Injil bahwa pemuridan tidak selamanya memberikan kita kenyamanan bahkan jauh dari rasa nyaman maka dibutuhkan hati yang kuat. Setiap jalan pemuridan juga tidak melulu diisi dengan pewartaan soal pertobatan dan Kerajaan Allah tapi juga selalu diikuti dengan tindakan menyembuhkan, merawat, menerima dan membebaskan mereka yang menderita. Singkatnya pewartaan Kerajaan Allah dibarengi dengan pewujudan Kerajaan Allah di dunia. Maka, menjadi pertanyaan lanjut bagi setiap. Murid Kristus, sudah kita pertama-tama mengalami pengalaman menjadi anggota Kerajaan Allah? Sejauh mana sebagai murid saya berkomunikasi dengan Guru saya?

Yulius Simson Ericson Simanjuntak – Seminaris Diosesan Bogor Tingkat Filosofan III)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses