Menjadi Garam dan Terang bagi Sesama

Kamis, 24 Februari 2022

Pekan Biasa VII

Bacaan I: Yak 5:1-6

Mzm 49:14-15ab.15cd-16.17-18.19-20;

Injil: Mrk 9:41-50

Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan Yesus yang bersabda kepada para muridnya untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain. Bahkan, dengan tegas Ia memerintahkan untuk memotong bagian tubuh kita jika sekiranya anggota tubuh kita itu menjadi batu sandungan bagi kita untuk dapat berbuat baik kepada sesama. Dengan kata lain, Ia menghendaki supaya di dalam kehidupan ini setiap orang dapat saling mengasihi dan menjadi berkat keselamatan bagi orang lain.

Setiap orang memiliki berbagai peran di dalam berbagai sisi kehidupannya, entah itu sebagai manusia, sebagai seorang anak, sebagai seorang istri/suami, orang tua, teman, pekerja, guru,  ketua lingkungan, dan lain-lain. Berbagai peran tersebut mengarah kepada tindakan yang berbeda juga, oleh karenanya tak jarang seseorang dapat menjadi sosok yang berbeda ketika memainkan peran tertentu di situasi tertentu. Bahkan, bisa jadi semakin dewasa seseorang, ia akan dihadapkan kepada situasi yang mengakibatkan adanya konflik peran di dalam dirinya. Meskipun begitu, melalui bacaan injil pada hari ini, kita diingatkan untuk terus menjadi pilar-pilar kebaikan. Apapun peran kita di setiap sisi kehidupan ini, kita harus menjadi orang yang berpegang teguh pada kebaikan yang luhur.

Yesus mengatakan bahwa kita hendaknya menjadi garam dan terang dunia. Menjadi garam berarti mampu memberi rasa di dalam kehidupan, dan menjadi terang berarti mampu menjadi pelita yang memancarkan kebaikan. Yesus menghendaki kita mampu memberikan kedamaian, memberi arah yang jelas dan benar bagi orang lain dan bersedia berkorban dalam mengungkapkan kasih Allah.

Fr. Gregorius Laurenzy. M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses