Seminar Mengenal, Merayakan, dan Menghidupi Ekaristi: Merayakan Iman Secara Nyata

KEUSKUPANBOGOR.ORG- Fokus Pastoral Keuskupan Bogor di tahun 2022 bertema Ekaristi dan Toleransi Demi Transformasi Dalam Gereja Sinodal. Ekaristi menjadi salah satu dari tiga unsur pokok yang menjadi agenda perhatian. Dalam Surat Gembalanya, Mgr Paskalis Bruno Syukur selaku Uskup Keuskupan Bogor mendorong umat untuk lebih mendalami kembali “warisan istimewa Tuhan Yesus” yaitu Ekaristi. 

Berdasarkan hal tersebut, Bidang Pembinaan Iman Keuskupan Bogor yang terdiri dari Komisi Liturgi, Komisi Kerasulan Kitab Suci, dan Komisi Kateketik, terpanggil untuk turut serta ambil bagian dalam tema penggembalaan Keuskupan Bogor tahun 2022 tersebut. Bentuk nyata dari panggilan tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan sebuah seminar yang bertema “Mengenal, Merayakan dan Menghidupi Ekaristi.”

Seminar “Mengenal, Merayakan, dan Menghidupi Ekaristi” merupakan sebuah upaya untuk melihat kembali “wajah baru” Ekaristi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai dan keutamaan dari Sakramen Ekaristi itu sendiri. Seminar ini bertujuan untuk mengajak umat mengenal kembali Ekaristi dengan segala kebaruan yang ada saat ini. Selain itu, umat juga diharapkan mampu merayakan imannya secara nyata dalam Perayaan Ekaristi serta diharapkan umat mewujudkan nilai-nilai luhur Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam seminar ini, umat diajak untuk merefleksikan kembali keberadaan dirinya, termasuk cara merayakan imannya. Kehadiran Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dengan penggunaan terjemahan baru semakin mendorong umat untuk perlu kembali mendalami Ekaristi sebagai sebuah ungkapan iman. 

Diadakan pada hari Minggu, 22 Mei 2022 di Aula Magnificat Lantai 4 Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, seminar ini menghadirkan RP Riston Situmorang, OSC sebagai pembicara tunggal dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kegiatan dihadiri oleh sekitar 75 peserta yang terdiri dari para Biarawan-Biarawati dan umat paroki-paroki yang berada di Dekanat Tengah.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari RD Agustinus Wimbodo Purnomo selaku Koordinator Bidang Liturgi Dekanat Tengah. Romo Nanang, begitu Ia dikenal, mengatakan bahwa dalam seminar yang diadakan pada hari ini, diharapkan seluruh peserta yang hadir mampu menghayati Ekaristi dan menghidupi serta merayakan iman secara bersama-sama. Yang pasti materi yang didapatkan pada hari ini akan menunjang edukasi kita semua sebagai praktisi liturgi. 

Senada dengan yang diungkapkan oleh Ketua Komisi Liturgi yaitu RD Paulus Haruna menyampaikan bahwa pelaksanaan seminar ini agar kita dapat mengenal Ekaristi lebih mendalam dan diharapkan umat dapat merayakan iman secara nyata dan konkrit serta mewujudkan nilai-nilai Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. 

Mengenal, Memahami, dan Menghidupi Ekaristi 

RP Riston Situmorang, OSC memulai pembahasannya dengan membagi materinya ke dalam tiga tahapan, yaitu menjelaskan tentang Mengenal Ekaristi, Memahami Ekaristi dan Menghidupi Ekaristi. 

“Ada 4 bagian dari Ekaristi semua adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan yaitu Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Ritus Penutup. Dalam Liturgi Sabda bagian yang paling penting adalah Bacaan Injil. Pada Liturgi Ekaristi bagian terpenting ada pada 3 elevasi, elevasi yang pertama adalah saat menghunjukkan persembahan, elevasi kedua saat Konsekrasi dan elevasi ketiga saat Doksologi,” tutur Romo Riston menjelaskan. 

Keabsahan Misa Secara Daring

Pandemi Covid-19 menyebabkan Gereja Katolik memutuskan menggelar Misa secara daring atau online. Sudah dua tahun berlalu, umat mulai terbiasa dengan menghadiri Misa yang ditayangkan secara langsung melalui kanal-kanal di YouTube. Romo Riston mengatakan ada tiga dimensi saat mengikuti Misa secara daring. Dimensi-dimensi tersebut adalah Dimensi Sakramental, Dimensi Spiritual dan Dimensi Komunal. 

Dimensi Sakramental adalah dimensi yang berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu perayaan liturgi sebagai sakramen. Perayaan Liturgi sebagai sakramen dapat dikatakan jika memenuhi tiga syarat secara liturgis. Syarat tersebut adalah Pemimpin yang sah, Materia Et Forma Sacramenti yang sah, dan Ritus yang sah.  Keadaan dan situasi umat yang berpartisipasi serta proses jalannya perayaan tidak mempengaruhi keabsahan liturgi yang sedang dirayakan. Keterbatasan yang sangat nyata dari Misa yang diikuti secara daring adalah bahwa umat tidak dapat menyambut komuni. Dalam hal ini, tidak terjadi persekutuan secara sakramental antara umat beriman dengan tubuh Kristus sebagai santapan Ilahi. 

Dimensi Spiritual adalah dimensi yang berkaitan dengan kekuatan rohani yang diterima umat beriman pada saat mengikuti misa. Umat yang tidak dapat menerima komuni ketika mengikuti Misa secara daring, dapat menerima “Komuni Batin” atau Komuni secara spiritual. “Kita tidak menerima Tubuh Kristus secara langsung, tetapi menerimanya dalam Roh dengan iman,” tegas Romo Riston. 

Dimensi Komunal adalah dimensi yang berkaitan dengan persatuan yang terjadi dalam Perayaan Liturgi. Umat dipersatukan satu sama lain, dipersatukan dengan Gereja sedunia bahkan dipesatukan dengan Allah. Umat bersekutu di bawah pimpinan Kristus. Karena situasi pandemi ini, umat yang mengikuti Misa secara daring diajak untuk membentuk Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga. Secara pastoral, persekutuan umat dalam satu keluarga adalah kesempatan yang sangat baik untuk menghadirkan Allah dalam perayaan iman bersama-sama. 

Romo Riston mengingatkan bahwa mengikuti Misa secara daring atau melalui live streaming  tidak pernah menggantikan kewajiban partisipasi umat dalam Misa tatap muka seperti biasanya. Ada tiga prinsip yang perlu dipegang yaitu 

  1. Misa dipandang bukan hanya sebagai kewajiban tetapi sebuah kebutuhan
  2. Dalam situasi darurat atau alasan berat seperti pandemi, umat diharapkan meluangkan waktu untuk berdoa secara orang perorang atau di dalam keluarga karena mengikuti Misa secara komunal di gereja tidak memungkinkan.
  3. Mengikuti Misa secara daring dimungkinkan secara pastoral sebagai sarana agar umat merawat imannya. 

Perayaan Ekaristi 

Kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab kemudian ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang diadakan secara konselebrasi. Dipimpin oleh RP Riston Situmorang, OSC didampingi oleh RD Paulus Haruna, RD Yustinus Joned Saputra, dan RD Agustinus Wimbodo Purnomo. 

Dalam homili yang disampaikan oleh RD Yustinus Joned Saputra, Ia mengatakan bahwa dari yang dibicarakan selama seminar ini berlangsung mengenai Ekaristi. Ada hal yang sangat penting yang dapat kita maknai bersama. 

Kita perlu memiliki ketaatan iman yang membuat kita mampu berpikir secara jernih mencari jalan keluar dan menemukan solusi yang tepat untuk menjalankan hal yang terbaik. 

Para murid, ketika ditinggalkan Yesus kembali kepada kebiasaan lama mereka, hingga akhirnya Yesus kembali mengingatkan murid-Nya dan diajak menjalankan ketaatan iman. 

“Dan dalam konteks hari ini, kita diajak untuk menjalankan ketaatan iman itu. Bukan karena merasa lebih pintar namun karena panggilan untuk bersama mengolah Liturgi menjadi hal luar biasa sebagai sebuah wasiat yang kita hidupi bersama. Mari mengundang Roh Kudus untuk memampukan kita menjalankan ketaatan iman agar Ekaristi menjadi indah dan baik untuk kemuliaan Allah dan kita rayakan bersama,” Pesan Pastor Paroki Santo Joannes Baptista-Parung tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!