Berpikir dan Beriman

Kamis, 30 Juni 2022

PF Para Martis Pertama Umat di Roma

Bacaan I: Am. 7:10-17

Mazmur Tanggapan: Mzm. 19:8,9,10,11

Bacaan Injil: Mat. 9:1-8.

Saudara-saudari ku yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus, pada hari ini Injil mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh. Proses penyembuhan ini merupakan salah satu dari sekian banyak mukjizat yang dilakukan Yesus. Mukjizat merupakan tindakan nyata Allah bagi manusia. Tujuannya untuk menyelamatkan manusia dan membuat manusia percaya kepada Allah. Karena mukjizat sendiri bukanlah sesuatu yang bisa dipahami melalui nalar logika manusia, melainkan melawan hukum alam.

Ada berbagai macam situasi di dunia ini yang tidak kita pahami. Misalnya, bagaimana terciptanya alam semesta? Bukannya sudah ada teori bigbang? Atau teori ilmiah lainnya yang bisa dinalar oleh alam pikir manusia? Dengan luasnya alam semesta ini, mengapa hanya manusia yang menjadi pusat perhatian Tuhan? Bagaimana dengan dunia lain? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita merasa tidak yakin akan Tuhan. Apakah Tuhan ada hanya di dalam imaginasi manusia, yang sebenarnya juga akal-budi adalah pemberian Tuhan?

Saudara-saudariku yang terkasih, pengalaman seperti itu pasti pernah kita rasakan ketika berbincang dengan teman, maupun lingkungan sosial kita. Hal tersebut tentu saja tidak terlalu menjadi masalah. Malahan kita patut bersyukur karena dibekali oleh-Nya akal budi yang sempurna bagi manusia untuk menemukan Dia dalam kehidupan. Ketika mengalami kebuntuan dalam bernalar, yang harus kita lakukan adalah beriman. Kita harus yakin, tidak melulu logika dan akal sehat manusia bisa menjawab hal-hal tersebut.

Oleh karena itu, melalui renungan ini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa beriman dan berpikir sebenarnya tidak berlawanan. Mukjizat menimbulkan reaksi yang sama sekali baik bagi hidup beriman kita. Dalam Matius 9: 7-8 memperjelas bagaimana reaksi itu menghasilkan hal yang signifikan. Orang lumpuh tersebut pulang dan tentu mewartakan tentang Yesus yang telah menyembuhkan penyakitnya. Reaksi orang-orang yang melihat mukjizat tersebut takut lalu memuliakan Tuhan. Sama halnya dengan kita yang berpikir dan beriman di satu tempat yang sama, tentu akan berbuah manis apabila menyadari bahwa Tuhan ada, karena kita mampu berpikir dan beriman. Tuhan Memberkati.

Fr Mateus Elbert Biliyandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!