Iman Yang Tumpul Dan Pemahaman Yang Sempit, Sulit Mengetahui Kebenaran-Kebenaran Yang Misteri

Selasa, 26 Juli 2022

PW S. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria

Bacaan Pertama                      : Sir 44:1.10-15

Mazmur Tanggapan                : Mazmur 132: 11.13-14.17-18

Injil                                          : Matius 13:16-17

Saudara-saudari, Injil hari ini mengingatkan kita akan peristiwa dalam Perjanjian Lama, di mana manusia untuk pertama kalinya jatuh ke dalam dosa. Peristiwa ini menggambarkan pula atau menjadi realita dari perumpamaan bacaan Injil hari ini. Apa yang terjadi dalam Perjanjian Lama tersebut adalah karena perbuatan si jahat atau iblis. Ketika iblis tidak dapat meyakinkan manusia untuk menjadi jahat sepertinya, seperti para nenek moyang yang menjadi orang-orang pilihan Allah (Sirakh 44:1,10-15), maka iblis akan membuat manusia merasa segala sesuatunya adalah bersumber dari dirinya sendiri sehingga menjadi buta dan tuli terhadap eksistensi kebenaran tersebut. Ciri-ciri manusia tersebut digambarkan dalam bacaan Injil Matius.

Apabila manusia merasa bahwa dirinya lebih dari yang lain, yaitu sebuah kepercayaan diri yang tinggi, yang menjadi sumber dalam suatu hal, maka manusia tersebut telah menjadi egosentris, selalu melakukan pembenaran untuk tidak dapat salah dan berlindung pada tembok kebenaran, kebaikan dan keadilan. Hal tersebut bukan merupakan ciri dari orang yang sungguh beriman, namun hanya mengatasnamakan iman untuk kepentingan dirinya sendiri dan kemudian mengambil sikap ‘bodo amat’. Kita harus mengambil sikap tegas terhadap diri kita, agar iman kita dapat penuh, total dan menyeluruh, yakni sebuah penyerahan diri seutuhnya terhadap apa yang diimani, bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan setengah-setengah. Kita perlu mengalami kesadaran, agar tidak menjadi buta dan tuli, melainkan dapat menjadi layaknya para nenek moyang yang tetap setia kepada Allah sehingga mengerti terhadap apa yang dilihat dan didengar.

Saudara-saudari yang terkasih, kenalilah diri kita sendiri secara lebih mendalam lagi karena diri kita ini adalah pribadi yang berhubungan langsung dengan Allah. Dengan begitu, secara bertahap, pandangan yang dangkal atau sempit dapat beralih pada pengertian-pengertian yang dalam dan sejati. Kita dapat mengenali diri kita dengan cara berefleksi, di mana hal tersebut adalah cerminan diri untuk melihat dan berjumpa dengan Allah, melalui pengalaman dan sejarah.

Lihatlah masa lalu untuk menjalani masa kini sehingga dapat menghantarkan pada masa depan yang baik.

Fr. Thomas More Yuven Raga Teda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!