Memahami Diri Untuk Pahami Allah

Loading

Sabtu, 29 Oktober 2022

Hari Biasa, Pekan Biasa XXX

Flp 1:18b-26

Mzm 42.2.3.5bcd

Luk 14:1,7-11.

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menegur orang-orang yang memperebutkan tempat kehormatan di dalam pesta. Yesus menegur dengan memberikan sebuah perumpamaan yang sangat mudah dimengerti dan begitu jelas. Kita dapat memahami satu hal dari apa yang Yesus lakukan kepada orang banyak. Penghormatan bukanlah suatu pengakuan, melainkan pemberian. Hal ini tertuang jelas ketika ia berkata dalam Lukas 14:8 yang berbunyi “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu”.

            Mungkin dalam hidup kita sehari-hari teguran ini masih relevan dengan orang-orang yang selalu mencari “muka” dengan mengagungkan diri sendiri. Mungkin juga ada orang yang terpaksa bermuka dua demi dipandang baik oleh orang lain. Yesus tidak melarang seseorang untuk tampil dan memiliki kehormatan, tetapi Yesus ingin menegur setiap motivasi buruk yang mendasari tindakan seseorang. Motif yang baik akan menghasilkan tindakan yang baik pula, begitu juga sebaliknya.

            Menyadari apa tujuan diri kita untuk melakukan sesuatu merupakan suatu cara untuk mendekatkan diri pada Allah. Dengan hanya mementingkan atribut yang menempel pada diri, maka kita hanya sampai pada tujuan sementara yang begitu fana. Dalam hal inilah Yesus ingin menyadarkan kita untuk lebih dalam merenungkan apa sebenarnya tujuan dari kita berada di dunia ini. Apakah hanya untuk mencari atribut-atribut dunia saja atau memahami diri sepenuhnya? Dengan menyadari dan memahami siapa diri kita yang sebenarnya, maka kita telah berupaya untuk memahami kehendak Allah. Manusia adalah citraNya yang begitu dikasihi Allah. Marilah kita menyadari motivasi dan tujuan kita dengan sebuah pertanyaan sederhana “apakah diri sendiri menjadi tujuan utama atau malah atribut yang melekat pada dirilah tujuannya?”.

Fr. Jeremia Setiadi/ Skolastikat II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!