Hidup yang Layak

Loading

Sabtu, 19 November 2022

Pekan Biasa ke XXXIII

Bacaan I          : Why 11:4-12

Mazmur           : Mzm 144:1.2.9-10

Bacaan Injil     : Luk. 20:27-40.

            Saudara-saudariku yang terkasih dalam nama Tuhan Kita Yesus Kristus, pada hari ini Injil mengisahkan tentang orang Saduki yang bertanya tentang Yesus perihal kebangkitan. Peristiwa tersebut tentu saja untuk mencobai Yesus tentang kehidupan setelah kematian. Orang Saduki percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Hal itu terjadi karena mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber utama.

            Dalam hal ini, Yesus menekankan bahwa Allah telah mengangkat kita menjadi anak anak-Nya. Bagi Allah, kita telah dibangkitkan karena Allah kita adalah Allah orang hidup. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup. Perkataan Yesus ini membuat orang Saduki terdiam. Karena memang kata-kata Yesus itu penuh kuasa dan pemaknaan kitab Taurat yang dilakukan Yesus bisa dipahami.

Pertanyaan yang bisa menjadi refleksi bagi kita adalah, apakah kita sudah menjadi manusia yang hidup? Apakah kita sudah menghargai kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepada kita? Ada seorang filsuf yang bernama J.P Sartre mengatakan bahwa, “Manusia Dihukum oleh kebebasannya” Manusia dihukum karena kebebasannya karena kita pasti diberikan pilihan-pilihan dalam hidup. Baik dan jahat, benar dan buruk, suci dan bernoda, semua tergantung dari diri kita. Dibalik pilihan-pilihan itu pasti ada konsekuensi yang harus terjadi.

            Sebagai anak-anak Allah yang hidup, kita harus memilih yang baik, benar dan suci itu. Memang tidak mudah untuk menjalankannya serta ada konsekuensi-konsekuensi logis dibalik itu. Sekalipun kita berbuat baik dan tindakan kasih lainnya, ada anggapan orang lain menganggap kita seperti sok suci, dan lain sebagainya. Itulah konsekuensi yang mungkin dapat terjadi. Tetapi seharusnya juga, itu tidak menjadi halangan bagi kita untuk selalu berpegang teguh pada tindakan yang baik dan suci tersebut. Sebab Allah itu adalah kasih maka tindakan kitapun harus selalu mengarah kepada Allah.

Fr Mateus Elbert Biliyandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!