Christus Natus Est

Luk 2:6            Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin

Luk 2:7            dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Setiap orang hadir di dunia melalui proses kelahiran dari seorang ibu. Kelahiran itu merupakan proses natural. Pengorbanan seorang ibu sangat menggagumkan saat ia melahirkan anak-anaknya. Ia mempertaruhkan nyawa demi melanjutkan kehidupan baru. Hebatnya, kesakitan seorang ibu saat melahirkan tidak meninggalkan duka. Kehadiran jabang bayi membuat kegembiraan banyak orang. Kesakitan tertutupi dengan kebahagiaan yang besar.  Keluarga ikut bergembira dengan hadirnya seorang bayi di tengah mereka. Tangisan bayi membuat riang gembiara orang sekeliling yang ikut menyambutnya.

Natal berbicara soal kelahiran Yesus. Injil Lukas menjelaskan betapa peristiwa agung itu disambut, tidak hanya oleh Maria dan Yosef. Bayi Yesus disambut oleh semesta alam. Hal itu ditandai dengan Para Malaikat yang menggemakan madah surgawi mewartakan kegembiraan ke seluruh dunia. Mereka pertama-tama mewartakan kepada para gembala (Luk 2:9). Sekelompok kawanan kecil para gembala disapa lebih dahulu. Mereka yang terpinggirkan mendapat tempat di Betlekem. Selanjutkan warta sukacita itu menyebar ke seluruh dunia. Kegembiraan itu terpancar melalui sinar kemuliaan yang menyelimuti para gembala yang ada di padang. Alam menyambut gembira seorang yang telah dijanjikan hadir di dunia. Kegembiraan ini juga merupakan bagian kegembiraan hidup manusia yang juga diundang dalam kegembiraan iman seperti halnya para gembala.

Peristiwa natal itu tidak bisa dilepaskan dari peran Maria. Ia dipilih Allah sejak dalam kandungan Santa Anna bersama suaminya, Johakim. Maria mempunyai peran penting dalam peristiwa agung ini. Peran itu berpijak pada kesangguoannya menerima tugas agung (Luk 1:38). Kesanggupan Maria menerima tugas mulia ini merupakan awal pembabakan baru karya keselamatan. Maria itu membuka hati hadirnya sang Immanuel dan ia memberikan kesempatan setiap manusia untuk ikut bahagia. Tugas Maria menerima karya Allah itu dipegang teguh sekalipun Maria harus menderita. Derita Maria tidak hanya pada saat melahirkan, namun ketika Yesus dipersembahkan ke Bait Allah seperti  diramalkan oleh Simeon. Ia akan menderita dengan disimbolkan 7 pedang akan menancap pada jiwanya (Luk 2:35). Keteguhan Maria itu tidak membuat dirinya berpaling pada tugas mulia itu. Oleh karena itu, pola dan hidup Maria itu menjadi teladan bagi setiap umat beriman. Irenenaeus menyebut ketaatan Maria itu membuka karya keselamatan baru. Maka, Irenaeus menyebut “Maria Eva Nova Est”.

Kegembiraan dunia atas kelahiran Yesus dirayakan dalam liturgi Gereja Katolik. Pertama-tama, Gereja mempersiapkan diri dengan liturgi Adven selama 4 minggu. Hal ini menandakan betapa pentingnya makna kelahiran sehingga peristiwa itu harus dinantikan dengan doa. Tradisi Gereja merayakan liturgi natal umumnya dua kali, yakni  malam natal dan pagi hari. Sebetulnya jika kita runut kembali, perayaan Natal dibagi menjadi 4 bagian.

  1. In Vigilia: Perayaan ini menekankan malam perjaga-jaga sebelum Maria melahirkan. Umumnya perayaan ini dilakukan sebelum pukul. 00.00. In Vigilia itu adalah saat manusia berjaga-jaga menantikan kelahiran. Setidaknya, Yosef dan Maria berjaga-jaga menanti saat persalinan itu tiba. Maka, penantian kelahiran dalam waktu dekat itu dirayakan in vigilia. Ibarat seorang ibu sedang berjuang menantikan kelahiran putra-putrinya. Ada masa saat ibu menunggu persalinan itu tiba.
  2. In Nocte: Perayaan menandai kelahiran Yesus. Masa berjaga-jaga selesai dengan ditandai kelahiran Yesus. Kelahiran itu disambut gegap gembita oleh alam dengan ditandai nyanyian surgawi, Gloria in Excelsis Deo”. Para Malaikat bernyanyi gembira seraya meniup sangkakala. Ikon-ikon itu sering kita jumpai saat malaikat sedang meniup sangkakala menyanyikan lagu surgawi.
  3. In Aurora: Kegembiraan malaikat itu diwartakan pertama-tama kepada para Gembala di padang. Perayaan itu dilakukan pagi sebelum matahari terbit. Mataharimenampilkan sinar  merah merona. Warna kemerahan itu sering  disebut Aurora. Jadi perayaan ini ditandai dengan kegembiraan para gembala menuju ke Betlekem.
  4. In Die: Perayaan Hari Raya Natal saat matahari sudah terbit. Umat manusia bangun dari tidurnya ikut bergembira atas kelahiran sang Imanuel di dalam dunia. Orang diundang ikut bergembira atas peristiwa agung itu.

Pada umumnya, perayaan natal zaman sekarang dirayakan dalam dua fase, In Vigilia dan In Die. Kedua fase ini telah mewakili perayaan sebelum kelahiran dan sesudah kelahiran. Artinya, Gereja sudah jarang merayakan perayaan In Nocte dan In Aurora. Sekalipun demikian, Perayaan In Vigila dan In Die itu tidak mengurangi makna kegembiraan seluruh dunia memperingati kelahiran Yesus. Alam ikut bersukaria, maka semua manusia diundang untuk bersukaria sebab karya keselamatan dibuka untuk orang  percaya kepada-Nya.

Perayaan Natal bukan soal asesoris pohon dan kandang natal, tetapi lebih pada konsep mendadani hidup kita untuk menyambut sang Imanuel. Para Gembala bergegas menuju Betlekem, kita pun juga bergegas untuk pergi ke Gereja merayakan peristiwa agung itu. Kegembiraan para Malaikat dan gembala merupakan kegembiraan kita yang ikut dipanggil ke kandang suci simbul dari Betlekem,  tempat Yesus dibaringkan di palungan. Yesus lahir di Betlekem (Citta di Pane, Kota Roti), diletakkan di palungan. Artinya Yesus adalah Roti kehidupan yang siap disatap bagi semua orang. Maka Yohanes menuliskan,” Akulah Roti Hidup” (Yoh 6:35). Artinya semua orang yang diundang ke palungan berarti siap menerima Roti Kehidupan, yaitu Sang Imanuel.

Selamat Natal.

RD Nikasius Jatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!