Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia di Paroki Hati Kudus Yesus, Jonggol

Berita Paroki HKY Jonggol

Hari Orang Sakit Sedunia diperingati setiap tanggal 11 Februari tiap tahunnya.

Tujuan diadakannya peringatan ini untuk mengingatkan umat Katolik agar mau peduli kepada orang- orang atau sesama yang sedang sakit sebagai perwujudan cinta kasih kita sebagai murid Tuhan Yesus.

Pada tahun ini, Paroki HKY melaksanakan peringatan HOSS ke 33 pada Sabtu, 15 Februari dalam misa pengurapan yang dihadiri sekitar 100 umat. Misa juga disiarkan secara daring.

PERJUMPAAN, ANUGERAH, BERBAGI

Romo Dominikus Savio Tukiyo dalam khotbah homili bertanya apakah ada sukacita? Dan pernahkah bertanya kenapa diberi sakit (padahal sudah berbuat baik), dan apakah sakit itu hukuman dari Tuhan?

Meskipun sakit, kita harus tetap bersyukur dan bersemangat untuk menjalani kehidupan yang diberi Tuhan. Seperti pepatah orang Jawa sakdermo, setia menjalani kehidupan apa pun itu.
Jangan sampai ada keinginan untuk mati karena hidup mati kita adalah kuasa Tuhan, dan menyadari masih diberi kesempatan atau peluang untuk akan adanya perubahan dalam hidup kita.

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit tahun ini, bahwa kita merayakannya di dalam tahun Yubilium dimana Gereja mengundang umat untuk berziarah dalam pengharapan menjadi peziarah pengharapan, sabda Allah menyertai kita melalui pesan yang membesarkan hati dari Santo Paulus (Roma 5:5), yaitu Pengharapan tidak mengecewakan. Pengharapan menguatkan kita di saat-saat percobaan.

Hal ini dinyatakan melalui perjumpaan, anugerah, berbagi. Perjumpaan adalah menjumpai atau menemukan diri kita sendiri yang lemah, tak berdaya, menyadari kelemahan kita.

Yang kedua adalah anugerah. Karena sakit merupakan anugerah atau rahmat maka kita berusaha mencari hikmah atau makna atau arti yang kita alami ini. Kita harus mampu merasakan bahwa sakit adalah anugerah. Apakah kita bisa menjadi lebih baik dengan sakit yang kita alami.

Dan yang ketiga adalah perjumpaan dan anugerah ini harus kita bagikan.Meskipun kita sakit apakah kita bisa juga menjadi terang bagi yang lain.

Sakit tapi ikut mengunjungi yang sakit, memberi contoh semangat hidup kepada yang lain (seberapa sering kita dekat dengan yang menderita kita belajar untuk beriman).

Misa diakhiri pada pukul 10.30.
Koordinator kegiatan, Ibu Fortunita Devi menyampaikan, penyelenggaraan misa ini juga mengevaluasi yang telah diselenggarakan tahun-tahun sebelumnya, sehingga di tahun ini jauh lebih baik. Peran dari kelompok katagorial, para ketua lingkungan dan para dokter sangat penting dalam kelancaran dan segala antisipasi yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Semua elemen yang ada di Paroki bekerja dengan sukacita dan kesadaran penuh akan peran, tugas dan tanggung jawab akan suksesnya kegiatan ini.

/Liputan tim komsos
Fransiska Fajariani
Doc & streaming Ardo,Teddy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses