Memaknai Musik Sebagai Bagian Integral Perayaan Liturgi

KEUSKUPANBOGOR.ORGKeuskupan Bogor melalui Komisi Liturgi mengadakan Seminar Liturgi dengan tema “Musik Dalam Perayaan Liturgi” pada tingkat keuskupan. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 Agustus 2025 di Aula Magnificat lantai 4 Pusat Pastoral Keuskupan Bogor ini dihadiri oleh umat dari berbagai paroki yang aktif melayani dalam bidang musik liturgi, mulai dari organis, pemazmur, anggota koor, hingga koordinator paduan suara.

Seminar diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh RD Dominikus Savio Tukiyo selaku Wakil Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Bogor. Setelah itu, RD Aloysius Tri Harjono, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Bogor, memberikan sambutan. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa seminar ini diadakan untuk memperluas pengetahuan dan memperdalam kaidah musik liturgi, sehingga para pelayan musik dapat semakin menata pelayanan mereka sesuai dengan kekayaan tradisi Gereja.

Memuliakan Allah

Sesi pertama seminar diisi oleh RP C.H Suryanugraha, OSC. Beliau membuka materinya dengan menyampaikan bahwa musik dalam perayaan liturgi bukan hanya tempelan semata, musik dalam liturgi merupakan bagian integral yang membantu kita dalam memuliakan Allah.

“Musik dalam Perayaan Liturgi bukan hanya tempelan. Ia adalah bagian integral yang membantu kita memuliakan Allah. Segala pelayanan yang kita lakukan perlu direfleksikan kembali bahwa apakah ini benar untuk kemuliaan Allah atau demi kepuasan diri?” tuturnya.

Lebih lanjut,  Dosen Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung tersebut menjelaskan panjangnya sejarah tradisi musik dalam liturgi, yang telah menjadi bagian dari perjalanan Gereja sejak awal. Musik liturgi lahir dari penghayatan iman umat, bukan dari selera pribadi, sehingga memiliki kekhasan dan tujuan rohani yang mendalam. Beliau pun menjelaskan lima ciri liturgi, yaitu: 

  1. Tindakan, yaitu melibatkan tubuh, indera, dan jiwa, serta partisipasi penuh umat.
  2. Bersama, yaitu dilakukan sebagai satu Gereja, bukan individu.
  3. Suci, yaitu pertemuan surgawi dan duniawi, berpusat pada misteri Paskah.
  4. Simbolis, yaitu diungkapkan lewat tanda dan ekspresi artistik.
  5. Resmi, yaitu menjaga kesatuan iman dan tata ibadah.

Menyanyikan Misa, Bukan Sekadar Bernyanyi di Misa

Musik liturgi sejati adalah musik yang digubah khusus untuk perayaan liturgi suci, memiliki bobot kudus, dan mendorong partisipasi aktif umat. Syairnya harus sesuai ajaran Gereja dan bersumber dari Kitab Suci atau teks liturgi. Bentuknya dapat berupa nyanyian Gregorian, polifoni suci, musik organ, maupun musik religius yang sesuai.

Musik liturgi memiliki tujuan yang sama dengan liturgi itu sendiri yaitu memuliakan Allah dan menguduskan umat. Selain itu, musik dalam liturgi bertujuan untuk memperindah perayaan dan menyatukan hati umat, membantu umat memahami misteri iman, serta mengarahkan hati kepada hal-hal surgawi.Beliau pun mengingatkan bahwa musik harus suci, indah, dan universal, tidak menjadi batu sandungan, tetapi membuat semua orang merasa diterima.

Dalam dokumen Musicam Sacram dijelaskan bahwa perayaan liturgi adalah perayaan seluruh Gereja. Umat diundang berpartisipasi aktif baik melalui aklamasi, jawaban, doa litani, nyanyian antifon, maupun madah. Koor memiliki peran khusus membawakan bagian-bagian tertentu dengan tepat, dan anggotanya perlu mendapat pembinaan musik, liturgi, dan rohani.

Pemilihan lagu dalam liturgi pun perlu mempertimbangkan beberapa unsur seperti :

  • Musikal, yaitu bermutu tinggi, sesuai harmoni dan estetika.
  • Liturgis, yaitu sesuai bagian Misa, peran, dan teks liturgi.
  • Pastoral, yaitu membantu umat mengungkapkan iman, sesuai budaya dan situasi jemaat.

Dalam kesempatan ini, RP C.H Suryanugraha, OSC mengajak peserta untuk beralih dari kebiasaan singing at Mass menjadi singing the Mass, yaitu menjadikan seluruh tata perayaan Misa sebagai satu kesatuan musikal yang mengantar umat menghayati iman. Beliau juga menguraikan unsur-unsur nyanyian Misa, mulai dari aklamasi, perarakan, mazmur tanggapan, ordinarium, hingga nyanyian tambahan, dengan pemilihan sesuai tingkatan perayaan liturgi.

Ruang Diskusi dan Berbagi Pengalaman

Sesi kedua seminar diisi dengan diskusi interaktif. Para peserta dari berbagai paroki berbagi pengalaman dan tantangan dalam pelayanan musik liturgi, mulai dari pemilihan lagu yang sesuai hingga membangun kekompakan paduan suara.

Dari diskusi ini, terjalin kesadaran bersama bahwa musik liturgi bukanlah ajang unjuk kemampuan, melainkan pelayanan yang memerlukan penghayatan, latihan yang konsisten, dan keterbukaan pada arahan Gereja. Musik liturgi adalah pelayanan iman, bukan ajang pertunjukan. Dengan memahami dasar teologis, estetis, dan pastoralnya, para pelayan musik diharapkan semakin mampu mengajak umat berpartisipasi aktif, sehingga setiap nada dan syair sungguh menjadi persembahan bagi kemuliaan Allah.

Seminar Liturgi Keuskupan Bogor ini diharapkan menjadi tonggak pembaruan pelayanan musik liturgi di seluruh paroki. Dengan memahami dasar, tujuan, dan kriteria musik liturgi, para pelayan musik dapat semakin memfasilitasi umat untuk berdoa dengan indah, khusyuk, dan penuh sukacita dalam setiap perayaan Ekaristi.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses