Tahbisan Imam dan Diakon Keuskupan Bogor: Kasih Kristus Menyertai Perjalanan Panggilan Para Tertahbis

KEUSKUPANBOGOR.ORG – Keuskupan Bogor menerima anugerah istimewa melalui perayaan Tahbisan Imamat dan Diakonat yang berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, di Gereja BMV Katedral, Bogor. Dalam perayaan yang berlangsung penuh syukur dan sukacita iman ini, dua frater menerima Tahbisan Diakonat, sementara tiga diakon menerima Tahbisan Imamat.

Kedua frater yang menerima Tahbisan Diakonat adalah Frater Paulus Lamro Siregar dan Frater Norbertus Rio Chandra. Sementara itu, tiga diakon yang menerima Tahbisan Imamat adalah Diakon Agustinus Indra, Diakon Agustinus Damas Adi, dan Diakon Theodorus Agung Yogatama.

Perayaan Ekaristi tahbisan dipimpin oleh Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, Mgr. Christoforus Tri Harsono, sebagai selebran utama. Ia didampingi oleh RD. Dionnysius Yumaryogustyn Manopo selaku Ketua Unio Keuskupan Bogor dan RD. Yosep Sirilius Natet selaku Rektor Seminari Tinggi St. Petrus dan Paulus. Puluhan imam dari Keuskupan Bogor dan berbagai tarekat religius turut hadir untuk mendampingi serta mendoakan para tertahbis dalam perjalanan panggilan mereka.

Umat Dipanggil untuk Mendoakan Para Imam dan Diakon

Dalam homilinya, Mgr. Christoforus Tri Harsono mengajak umat untuk senantiasa mendoakan para imam dan diakon. Ia mengingatkan bahwa para pelayan Gereja tetaplah manusia yang memiliki kelemahan dan tidak luput dari kesalahan.

Mengacu pada bacaan Injil hari itu, Mgr. Tri menjelaskan bahwa sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus terlebih dahulu berdoa kepada Allah Bapa. Sikap Yesus ini menjadi teladan bagi umat untuk senantiasa membawa kehidupan dan pelayanan para imam serta diakon ke dalam doa.

“Dalam bacaan Injil, sebelum Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, Yesus senantiasa berdoa kepada Allah Bapa di surga. Hal ini juga harus dilakukan oleh umat sekalian. Para imam, baik yang baru ditahbiskan maupun imam lainnya, serta para diakon, tidak lepas dari kelemahan manusiawi. Maka, ketika kelemahan itu muncul, sikap yang seharusnya diambil bukanlah menjelekkan, menggosipkan, atau mengucilkan mereka. Akan tetapi, mari kita mendoakannya,” ujar Mgr. Tri.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan Gereja merupakan tanggung jawab bersama. Ketika para imam dan diakon menghadapi tantangan dalam menjalankan pelayanan, umat dipanggil untuk memberikan dukungan melalui doa, perhatian, dan sikap persaudaraan.

Selain mengajak umat untuk berdoa, Mgr. Tri juga menegaskan pentingnya menjaga dan merawat rahmat Tahbisan yang telah diterima oleh para tertahbis. Rahmat tersebut merupakan anugerah dari Kristus yang membawa tanggung jawab besar dalam menjalani panggilan pelayanan.

Karena itu, para tertahbis diajak untuk menjaga kesetiaan terhadap panggilan imamat dan diakonat, termasuk memelihara kemurnian hidup serta memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan kepada Allah dan sesama.


Caritas Christi Urget Nos: Kasih Kristus yang Menggerakkan Panggilan

Caritas Christi Urget Nos, yang berarti “Kasih Kristus Menguasai Kami”, menjadi tema yang diangkat dalam perayaan Tahbisan Imamat dan Diakonat ini. Tema tersebut mengungkapkan kesadaran para tertahbis bahwa perjalanan panggilan mereka hingga menerima rahmat tahbisan bukan semata-mata hasil kekuatan dan usaha manusiawi, melainkan buah kasih Kristus yang senantiasa menyertai mereka.

Dalam perjalanan panggilan yang panjang, para tertahbis mengalami berbagai peristiwa, tantangan, dan proses pembentukan diri. Di balik setiap langkah tersebut, mereka menyadari adanya kasih Kristus yang menguatkan dan menuntun mereka hingga tiba pada hari penerimaan tahbisan suci.

Kasih Kristus itu juga mereka alami melalui kehadiran orang-orang yang berjalan bersama mereka. Keluarga, para imam, umat Allah, dan para sahabat menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilan tersebut. Dukungan, doa, dan kebersamaan mereka menjadi tanda nyata bahwa Allah senantiasa hadir dan bekerja melalui kehidupan sesama.

Kesadaran ini mendorong para tertahbis untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendampingi perjalanan panggilan mereka. Bagi mereka, kehadiran orang-orang tersebut bukan sekadar dukungan manusiawi, melainkan juga sarana untuk mengenali kasih Allah yang bekerja dalam kehidupan.

Melalui perayaan tahbisan ini, para imam dan diakon yang baru ditahbiskan memulai tahap pelayanan yang baru dalam perjalanan panggilan mereka. Dengan berpegang pada kasih Kristus, mereka diutus untuk melayani umat Allah dengan setia, rendah hati, dan penuh kasih.

Perayaan ini sekaligus mengingatkan seluruh umat bahwa panggilan hidup menggereja merupakan perjalanan bersama. Para imam dan diakon membutuhkan doa serta dukungan umat, sementara umat juga membutuhkan kehadiran dan pelayanan para gembalanya. Dalam semangat Caritas Christi Urget Nos, seluruh umat diajak untuk terus berjalan bersama dalam kasih Kristus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses