
KEUSKUPANBOGOR.ORG – Para animator Laudato Si Keuskupan Bogor diutus bukan sekadar untuk menjalankan tugas pelayanan, tetapi untuk menjadi “saluran berkat” yang membuka jalan agar kehidupan dan berkat Tuhan sampai kepada mereka yang membutuhkan. Perutusan itu disampaikan Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor, RD. Yohanes Driyanto, saat mengutus dan memberkati para peserta Formasio Animator Laudato Si’ Batch I, yang untuk pertama kali diselenggarakan oleh Laudato Si’ Chapter Bogor.

Pengutusan berlangsung usai homili dalam Perayaan Ekaristi di Puspas Keuskupan Bogor, Minggu, 4 Oktober 2026, yang dipimpin Romo Driyanto pada pukul 14.45 WIB.
Romo Driyanto, dalam kotbahnya, memulai dengan sebuah cerita tentang air yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan tumbuhan, sesuai dengan tema Season of Creation tahun 2026, yakni ‘Living Water’ atau Air Kehidupan. Ia mengungkapkan harapannya agar peserta Formasio Animator Laudato Si’ dapat menjadi saluran berkat, membantu menyalurkan air ke tempat-tempat yang membutuhkan.
Romo Driyanto berharap para peserta mampu membuka jalan dan mengatasi saluran air yang mungkin tersumbat, “menjadikan diri mereka sebagai saluran berkat” sehingga air bisa mengalir dan mencapai tujuan, terutama mereka yang paling membutuhkan.
Para animator dipanggil untuk membuka saluran-saluran yang tertutup, bukan justru membuatnya semakin buntu. Pesan tersebut menjadi gambaran penting mengenai peran animator Laudato Si dalam menggerakkan kepedulian ekologis di lingkungan paroki mereka dan juga di tengah masyarakat.
Romo Driyanto menegaskan bahwa persoalan ekologis berawal dari cara manusia memahami dan memperlakukan bumi. Ketika pemahaman keliru, cara berpikir, standar penilaian, hingga perilaku manusia ikut menjadi keliru.
“Kalau pengertian kita salah, maka pola pikir kita salah, kemudian tolok ukur pemilihan kita salah. Karena pengertian kita salah, maka perilaku kita juga salah,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, diperlukan pembinaan yang mampu memperbaiki cara pandang manusia terhadap alam. Proses itulah yang disebut sebagai formasio. “Perbaikan pengertian, pandangan, kekeliruan inilah yang kita namai formasio,” katanya.
Ia menjelaskan, formasio ekologis tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, melainkan menjadi kebutuhan semua orang. Namun, para animator yang telah mendapatkan pembinaan memiliki tanggung jawab khusus untuk membawa perubahan tersebut ke lingkungan masing-masing. “Siapa saja harus melakukannya? Tentu saja kita semua, tetapi terutama adalah orang-orang yang sudah kita latih, yaitu para animator,” kata Romo Driyanto.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi animator berarti menggerakkan orang lain melalui semangat dan kehidupan yang mereka hidupi. Karena itu, perutusan para animator tidak berhenti pada seremoni pelantikan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Romo Driyanto kemudian mengaitkan tugas tersebut dengan pertobatan ekologis. Menurutnya, pertobatan berarti perubahan cara berpikir, berbicara dan bertindak menuju sesuatu yang lebih benar daripada sebelumnya.
“Untuk sampai ke sana diperlukan yang namanya pertobatan ekologis. Pertobatan itu sebenarnya berpikir, berbicara, bertindak lebih benar dari sebelumnya,” tuturnya.
Ia mengajak para animator agar tidak menjadi manusia yang hanya mengejar keinginan tanpa batas. Keserakahan dan kekhawatiran yang berlebihan, katanya, dapat membuat manusia mengambil terlalu banyak dari alam dan menutup saluran kehidupan bagi makhluk lain.
Karena itu, para animator diharapkan menjadi bagian dari gerakan yang membuka kembali jalan-jalan kehidupan tersebut.

Panggilan Untuk Melayani
Pengutusan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Formasio Animator Batch I Keuskupan Bogor yang diselenggarakan oleh Laudato Si Chapter Bogor. Para peserta telah mengikuti empat kali pertemuan secara daring selama September 2026, mulai 6 September. Dari seluruh peserta yang mengikuti proses formasio, sekitar 74% dinyatakan lulus dan selanjutnya diutus sebagai animator.
Menurut informasi dari Panitia penyelenggara, dari 75 peserta yang mendaftar, ada 16 peserta yang batal mengikuti formasio karena alasan tertentu, sehingga tercatat hanya 61 peserta yang mengikuti formasio animator. Dari jumlah itu, 45 orang yang dinyatakan lulus.
Meski demikian, panitia penyelenggara berharap “semangat pelayanan” tidak berhenti pada peserta yang dinyatakan lulus. Seluruh peserta yang telah mengikuti formasio diharapkan tetap melanjutkan karya pelayanan dan menjadi penggerak semangat Laudato Si di paroki masing-masing. Bagi yang belum lulus dapat mengikuti formasio tahun berikutnya.
Dengan demikian, formasio tidak hanya menghasilkan peserta yang memperoleh kelulusan, tetapi juga memperluas jaringan penggerak kepedulian ekologis di lingkungan Gereja dan masyarakat.
Perutusan para animator tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk menghidupi pertobatan ekologis secara nyata: mengubah cara pandang, membangun pola hidup yang lebih peduli, serta membuka jalan agar kehidupan dapat terus mengalir bagi sesama dan seluruh ciptaan.
Dialog Lintas Agama
Pada Perayaan Puncak Season of Creation pada 4 Oktober 2026, Laudato Si’ Chapter Bogor menyelenggarakan acara Doa Lintas Agama yang melibatkan perwakilan dari agama Katolik, Hindu, Protestan, dan Islam.


Acara ini dilanjutkan dengan Dialog lintas iman, di mana setiap panelis memberikan pandangan mereka mengenai perayaan Musim Penciptaan dan usaha bersama dalam menjaga alam sebagai rumah Bersama, titipan dari Yang Maha Kuasa. Para panelis tersebut adalah Ibu Kristiana Sri Utami dari PGIS Bogor, Nyoman Wistar dari Parisade Hindu Dharma Indonesia, Ibu Khoirotun Nisak dari Paramadina Center, serta RD. Yosef Irianto Segu.

Dialog Lintas Iman dibuka dengan sambutan oleh Ketua Laudato Si Chapter Bogor Agustinus Harsono dan keynote speech yang diberikan oleh Rudy Mashudi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dan Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor RD. Yohanes Driyanto, yang biasa disapa Romo Driyanto

Romo Driyanto juga memberikan apresiasi kepada Laudato Si Chapter Bogor yang membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak. Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai latar belakang agama serta unsur pemerintah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Dalam kegiatan tersebut hadir peserta dari agama Katolik, Protestan, Islam dan Hindu, serta unsur pemerintah.
“Hal-hal ini adalah tanggung jawab kita bersama. Sehingga keberanian untuk menjalin kerja sama itu merupakan sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dibatasi oleh identitas agama atau kelompok. Semua pihak perlu bekerja sama karena kerusakan lingkungan berdampak kepada kehidupan bersama.
Romo Driyanto juga mengajak peserta melihat seluruh ciptaan sebagai bagian dari keluarga besar kehidupan. Ia mengutip semangat Fransiskus tentang “saudara matahari” dan “saudara bulan”, yang menunjukkan bahwa manusia memiliki hubungan persaudaraan dengan seluruh ciptaan.
“Kalau semua makhluk hidup itu kita anggap sebagai saudara dan saudari, maka pastilah kita peduli kepada semuanya,” katanya.
Penulis Berita: Roffie Kurniawan



