Caleg Katolik Harus Pegang Nilai Moral Gereja Katolik : Temu Caleg Katolik Keuskupan Bogor

Bogor – Keuskupanbogor.org: Pertemuan CALEG – KERAWAM – FMKI KEUSKUPAN BOGOR yang dihadiri sekitar 50 calon legislatif, beberapa seksi Kerawam paroki se-Keuskupan Bogor, Pemuda Katolik (PK) Cabang Depok, FMKI Kota Depok, FMKI Sukabumi, FKMI Kota Bogor, dan perwakilan WKRI cabang, dilaksanakan pada 20 November 2018 di Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Dengan tema “Kerja Bersama Mempersembahkan Kader Terbaik Bagi Bangsa dan Negara”, Kerawam bekerjasama dengan FKMI, yang menyebut diri sebagai tim 7 mempelopori kegiatan untuk mengkonsolidasikan para caleg katolik di wilayah Keuskupan Bogor. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah:
1. Saling mengenal antar caleg
2. Menyatukan visi misi sesuai harapan dan tujuan, serta ajaran Gereja Katolik di tengah masyarakat
Para caleg diharapkan saling berkonsilidasi, bekerjasama dan tidak saling menjatuhkan dengan spirit yang sama yaitu menjaga persatuan.

Anton Sulis (tengah) memberikan ajakan kepada para caleg untuk ciptakan harmoni. (Foto : Tim Kerawam/FMKI)
Ciptakan Harmoni

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan perkenalan, acara kemudian dibuka oleh Ketua panitia, Anton Sulis (Ketua FMKI KB). Dilanjutkan dengan sambutan oleh Bapa Uskup Keuskupan Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur, yang turut mengapresiasi kegiatan ini, beliau berpesan meskipun berbeda-beda dengan kepentingan tetapi tetap harus menjaga keberagaman agar menjadi sebuah harmoni.
Pada sesi pembahasan mengenai pandangan terhadap keterlibatan Gereja katolik tentang kehidupan berpolitik, RD Dionysius Adi Tejo Saputro, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Bogor, mengajak para peserta caleg berefleksi dari sharing pastoral Kerawam di Keuskupan Tanjung Selor. Dalam berpastoral itu, beliau memberikan gambaran kondisi pelayanan terhadap umat di wilayah Keuskupan Tanjung Selor, bahwa dengan dengan kondisi geografi yang luas dan berbagai permasalahn sosial ekonomi namun animo politik umat/masyarakat pada umumnya sangat tinggi.

Tingginya animo itu berdasar pada kebutuhan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat. Jumlah caleg Katolik di Keuskupan Tanjung Selor pada waktu itu cukup banyak. Sebagai contoh, sebuah daerah pemilihan (Dapil) bisa mencapai 10 hingga 15 caleg, sementara jumlah penduduknya terbatas untuk memperoleh satu kursi. Lalu persoalannya adalah bagaimana mengkonsolidasikan situasi tersebut. Maka caleg diajak untuk saling menerima satu sama lain, dengan berangkat dari visi Gereja untuk berperan serta di dalamnya. Banyak kepentingan, ego, ambisi dan hal lain namun harus dikesampingkan demi terciptanya persatuan.

RD Dionysius tegaskan nilai-nilai moral ajaran Katolik bagi para caleg. (Foto : Tim Kerawam/FMKI)
Caleg Harus Sejalan dengan Gereja

Dalam hal ini, Gereja (Klerus) mendukung penuh setiap umat yang berpartisipasi dan “tidak abu-abu”. Gereja sebagai persekutuan umat Allah beriman memiliki tugas dan kewajiban masing-masing; antara klerus dan umat awam. Para klerus mendorong dan mengajak umat agar beperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih dalam hal politik bangsa ini. Berangkat dari pengalaman tersebut, Pastor Dion mengajak para caleg katolik di Keuskupan Bogor untuk kembali melihat visi dan misi Gereja, antara lain: untuk bersikap inklusif (non diskriminatif), preferential option for the poor, solidaritas dan subsidiaritas, dan bonum publicum/ bonum communae yang senantiasa menjadi perhatian gereja.
Pada sesi selanjutnya para caleg ditempatkan secara terpisah untuk melakukan mapping situasi dan kondisi yang ada di wilayah Dapilnya masing-masing, serta melakukan dialog satu sama lain untuk berbagi pengalaman di kelompoknya.

Sementara di bagian lain, ormas-ormas katolik, FMKI dan seksi kerawam paroki-paroki juga melakukan diskusi dalam menanggapi situasi pileg dan pilpres 2019, hal-hal apa saja yang sekiranya dapat dilakukan disetiap kelompok maupun paroki masing-masing. Dalam diskusi tersebut muncul pula keprihatinan akan lemahnya partisipasi umat dan kesadaran umat untuk terlibat, sebagai pemerhati dan aktifis kerawam di paroki-paroki.

Di akhir acara, Pastor Dion menyimpulkan sekaligus menutup acara dengan mengajak para caleg untuk saling tetap berpegang pada nilai-nilai moral Gereja Katolik, dan tidak menghalalkan segala cara, serta senantiasa menjaga situasi yang kondusif. Per Ecclesiam Pro Patria. (Aureliarani/MEKAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.