Sikap Kritis Berbuah Manis

Tomas menjawab kepada-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Yohanes 20 : 29
Renungan Harian
Rabu, 3 Juli 2019
Pesta Santo Thomas Rasul
Bacaan : Efesus 2:19-22, Yohanes 20:24-29

Sikap kritis kadang kala diperlukan agar kita tidak mudah tertipu. Dalam arus tsunami informasi sekarang ini telah terjadi krisis sikap kritis. Orang terlalu mudah tergoda, percaya, tersulut emosi, dan akhirnya efeknya meluas karena terlalu mudah percaya pada informasi hoax dan berita palsu.

Sikap Thomas dalam kisah penampakkan Yesus menunjukkan sebuah sikap kritis logis. Imannya kepada Yesus bukan hanya sekedar “apa kata orang”. Ia ingin meraih sebuah kepercayaan berdasarkan pengalaman personal dengan Yesus.

Iman bukan hanya menyentuh pikiran atau logika. Sikap Thomas ini justru memunculkan sebuah ungkapan iman yang mendalam; menyentuh kalbu (hati) dan akhirnya mengubahkan diri. Sikap kritisnya berbuah manis. Yesus mengundangnya lebih dekat sehingga hati dan hidupnya terubahkan. Keraguan diawal menjadi sebuah kepercayaan dan kepasrahan total mendalam ” Ya Tuhanku dan Allahku”.

Banyak dari sikap beriman kita mungkin saat ini kekurangan sikap kritis? Kekayaan iman hanya mengandaikan lewat “penerimaan” bukan pencarian. Kekurangan waktu untuk berefleksi karena terlalu sibuk. Tak sempat membaca bacaan rohani. Hanya mengandalkan kotbah imam setiap minggu.

Bersyukur di Keuskupan Bogor ini ada banyak cara untuk mencari dan semakin Yesus lebih dalam melalui berbagai kegiatan: KEP, KPKS, Wanita Bijak, Priskat, dsb.

Persoalan berikut adalah apakah sikap beriman kita yang kadang kala logis ketika segala sesuatu didasarkan pada data, perancangan, wacana, dan sesuatu yang bersifat struktural birokrasi dan penuh aturan telah menyentuh ketanggapan dan kepekaan hati?

Tuhan ajarlah aku untuk semakin percaya bukan karena melihat lewat mata logika tetapi karena rasa.

RD David

6 thoughts on “Sikap Kritis Berbuah Manis

  1. ARK says:

    Sikap kritis tentu baik ya (seperti pertanyaan saya, sikap kritis akan tulisan ini), namun kalau disa dingkan dengan sikap Thomas, dalam keimanan jadi bikin bingung.

    Kalau dalam tulisan ini menggiring pemahaman berlakulah seperti Thomas yg kritis. Tapi Yesus mengatakan berbahagialah yang tidak melihat namun percaya (tidak seperti Thomas) bagaimana penjelasannya? Terimakasih.

    • David Lerebulan says:

      ARK yang baik
      Sikap Thomas yang ditunjukkan dalam peristiwa tersebut tidak lantas mendapat sebuah respon negatif dari Yesus. Yesus bersikap dengan sungguh intim, mengajak Thomas mendekat dan menjawab keraguan Thomas. Yesus mendekati dia dan segera berkata, tanpa menunjukkan benci atau sindiran, “Letakkan jarimu di sini, lihatlah tangan-Ku”.
      Sikap Thomas ini menunjukkan sebuah kepolosan mengingat dia adalah seorang nelayan. Sikap Thomas ini pun menunjukkan kemanusiawian karena Thomas merasa kecewa gurunya wafat di salib.
      Saat itu juga, Thomas menangis hingga tersedu-sedu. Yesus mendekat dan meletakkan tangan-Nya ke bahu Thomas. Kemudian, Thomas bersujud di kedua lututnya dan berkata dengan hormat, “Tuhanku dan Allahku!”

      Thomas, “Thomas yang ragu-ragu”, demikian dia biasa disebut, adalah murid pertama yang menyebutkan kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. “Thomas yang ragu-ragu” memberikan pengakuan terbesar yang dicatat dalam Alkitab.

      Yesus menjawab, “Karena kamu telah melihat Aku, maka kamu percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tetapi percaya”.

      Lewat tulisan ini tidak bermaksud untuk mengagungkan salah satu antara rasional dan emosional. Keduanya diperlukan dalam perkembangan iman.
      Dalam refleksi iman akhirnya :
      Iman yang hanya menekankan emosional akan menjadi sebuah bentuk iman yang fanatik
      Iman yang hanya menekankan rasional akan menjadi sebuah bentuk iman yang tidak peka dengan hati.
      Akhirnya dalam praktik iman sekarang secara manusiawi ada beberapa contoh yang akan membawa kita pada sebuah refleksi :
      Bila imam juga manusia, mampukah kita menjadi orang yang luluh dalam Ekaristi tanpa memandang siapapun imam yang memimpinnya karena ia dalam Ekaristi menjadi in persona christi?

      Tulisan ini tidak menggiring orang menjadi Thomas secara harafiah, tetapi teladan sebuah transformasi hati yang berawal dari kepolosan seorang nelayan yang kecewa karena guru dan idolanya wafat.

  2. Ansel Openg says:

    Saya mengutip perkataan St. Anselmus of Canterbury: Credo ut Intelijen. Selain itu di kitab suci juga mengatakan: percaya dan kamu akan mengerti kemudian. Perkataan ini tentu berseberangan sikap Thomas yg kritis, dan selaras dgn permenungan hari ini…contoh konkrit , kita umat menghafal doa2 aku percaya, bp kami, salam maria dll. Awalnya kita mengerti baru percaya. Menurut saya, umat pada umumnya mengikuti konsep st. Thomas…atau menurut romo sebaiknya gimana, percaya baru mengerti atau mengerti baru percaya

    • David Lerebulan says:

      Keduanya tidak ada yang rasanya perlu didahulukan. Rasional dan emosional; logika dan rasa; keduanya berjalan berdampingan. Keduanya saling melengkapi.
      Iman yang hanya menekankan emosional akan menjadi sebuah bentuk iman yang fanatik
      Iman yang hanya menekankan rasional akan menjadi sebuah bentuk iman yang tidak peka dengan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.