Sabar Menanti

Jumat, 2 Agustus 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa XVII
Bacaan 1 : Im. 23: 1.4-11. 15-16. 27. 34b-37
Mazmur : Mzm. 81: 3-4. 5-6ab. 10-11bInjil : Mat. 13: 54.55.56b-58
Injil : Mat. 13: 54.55.56b-58

SEORANG laki-laki muda yang masih dipenuhi semangat untuk belajar, pintar, rajin, dan tekun datang berkunjung ke sebuah perpustakaan kota. Dia datang dengan semangat, dan tentu ingin membaca beberapa buku di sana guna menambah wawasannya. Laki-laki ini baru saja lulus dengan predikat nilai sangat baik dari salah satu universitas ternama di kotanya.

Ketika sedang membaca di perpustakaan, dia menemukan sebuah buku tua yang sudah cukup usang. Dia mengambil buku itu, namun alih-alih membaca buku itu, ia justru menilai dalam hati, bahwa buku ini pasti tidak berguna. Ia bahkan bertanya-tanya mengapa buku ini tidak dibuang saja.

Ketika hendak pulang, ia bertemu dengan seorang pengajar atau dosen yang ia idolakan. Pemuda itu pun mengikuti sang dosen dari belakang, karena ia penasaran buku apa yang hendak dibaca dosen tersebut sehingga ia dapat menjadi pengajar yang brilian. Ketika si pemuda mengikuti dan melihat, ternyata dosen itu mengambil buku tua usang yang sebelumnya dia ‘hina’ itu.

Saat si pemuda bertatap muka dengan dosen tersebut, dosen itu berkata “Buku ini yang membuat saya hingga bisa seperti ini”. Laki-laki itu pun terkejut dan merasa bodoh atas apa yang dia lakukan. Karena dengan melihat ‘bungkus’nya saja dia sudah mengatakan bahwa tidak ada yang baik di dalamnya.

Kebenaran dan juga kebaikan tidak selalu muncul di permukaan. Bahkan untuk melihat keindahan di dalam laut, kita harus menyelam lebih dalam. Artinya, untuk menemukan kebenaran, kebaikan, bahkan keindahan, kita harus masuk ke dalam dan tidak boleh melakukan penilaian atau judgment secara langsung.

Melihat dan menilai seseorang secara langsung, apalagi secara negatif, adalah hal yang keliru. Termasuk juga ketika kita menilai orang tersebut dari latar belakang keluarganya. Hal ini pun dialami oleh Yesus dalam Injil hari ini. Yesus datang dengan membawa kebaikan juga kebenaran. Namun ketika orang-orang mengenal latar belakangnya sebagai seorang anak tukang kayu, mereka langsung menilai bahwa Yesus tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, mereka menilai apa yang dilakukan oleh Yesus adalah sesuatu yang percuma atau sia-sia. Mereka tidak percaya bahwa kedatangan Yesus membawa kebenaran juga kebaikan, termasuk ketika Yesus hendak mengadakan mukjizat di sana. Iman mereka tertutup oleh prasangka terhadap latar belakang Yesus. Kepercayaan mereka sirna ketika melihat Yesus yang ‘hanya’ seorang anak tukang kayu.            

Sebagai orang beriman, hendaknya kita tidak seperti orang-orang pada bacaan Injil kali ini, yang menutup hatinya terhadap kedatangan Yesus yang membawa kebenaran serta kebaikan. Hendaknya kita selalu melihat segala sesuatu dengan lebih dalam lagi. Tidak hanya kepada Tuhan saja, kepada sesama pun kita perlu melihat segalanya dengan lebih dalam dan tidak langsung menilai.

Apakah kita malah justru seperti orang-orang di tempat Yesus berasal yang menutup mata serta iman mereka terhadap kedatangan Yesus? Atau apakah kita lebih sering mengeluh kepada Tuhan karena doa kita tidak pernah dikabulkan? Atau justru kita malah melihat dan menunggu bahwa suatu saat nanti Tuhan akan berbuat sesuatu yang indah bagi diri kita?

Tuhan, bantulah kami untuk tidak memandang segala sesuatunya hanya dengan pengetahuan kami yang terbatas. Semoga mata hati kami selalu terbuka pada kebaikan dan mukjizat-Mu yang terus mengalir dalam hidup kami. Amin.

(Fr. Constantin Reynaldo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.