DIPUJI ATAU MEMUJI?

HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 
Sabtu, 17 Agustus 2019
Bacaan I : Sir 10: 1-8                                                                          
Bacaan Injil : Mat 22:15-21        

Sepulang sekolah, Koentjoro sambil tersenyum lebar berkata pada ibunya: “Mami ki(ini),… makin cantik aja ya”. Dengan sedikit mengerutkan dahinya sang ibu berkata,”alahhhh, piroooo (berapa)?”

Dalam sepenggal kisah singkat di atas, kita menemukan salah satu karakter orang-orang pragmatis (sejauh itu berguna/bermanfaat); dalam hal ini, pujian selalu dikaitkan dengan imbalan, atau balasan. Padahal memuji bukanlah demikian. Memujilah tanpa pamrih (bdk Mzm 145:2)

Banyak generasi anak muda zaman sekarang sangat haus pujian. Berbagai metode/cara dilakukan untuk membuat dirinya populer, tidak segan-segan menampilkan apa yang seharusnya tidak perlu diperlihatkan kepada banyak orang. 

Saya jadi teringat akan pepatah jawa ‘ojo seneng yen dialem, ojo sengit yen cinacat’artinya jangan besar hati kalau dipuji, jangan marah kalau dikritik. Sebuah pujian itu suatu hal yang baik, karena dapat menambah motivasi kita untuk melakukan suatu pekerjaan yang dinilai sulit. Tetapi, jangan terlalu terlena dengan pujian-pujian karena sikap semacam itu mendekatkan kita pada salah satu 7 dosa dasar yaitu kesombongan. Dan perlu sesungguhnya ini perlu diketahui bahwa untuk menjatuhkan, strategi pujian adalah hal yang paling ampuh.

Di hari kemerdekaan Republik Indonesia ini ada baiknya kita melihat model kepemimpinan Yesus ketika menghadapi orang Farisi (yang sebagai orang religius menolak membayar pajak kepada pemerintah asing) dan orang Herodian(yang mungkin mengurus sisten pajak di palestina) kepada Yesus menurut Matius. Saya mencoba mengulangi kalimat di ayat 16 : Guru kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujjut mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Seketika Yesus menyadari maksud dan tujuan mereka dan menjawab “mengapa engkau mencobai aku, hai orang-orang munafik?” (ay 18c) Begitulah yang boleh saya sampaikan dalam cerita Koentjoro, bahwa Pujian dapat menjadi baik dan juga menjadi tidak baik.(bdk Flp 2:3) Menjadi pemimpin akan mengalami banyak cobaan, Indonesia masih membutuhkan figur pemimpin seperti yang diharapkan dalam Kitab Putra Sirakh.

Hidup ini penuh dengan pilihan. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, sadarilah diri anda saat ini berada dimana? dipuji atau memuji? (bdk Yak 3:9) – Fr. Damian-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.