Jarkoni: Isa Ngajar, Ora Isa Nglakoni

Rabu, 16 Oktober 2019
Pekan Biasa XXVIII
Bacaan I  : Rm. 2:1-11
Mazmur    : Mzm 62: 2-3.6-7.9
Injil     : Luk. 11: 42-46

SUATU ketika ada sepasang anak kecil kakak-beradik yang sedang bertengkar karena rebutan remote televisi. Mereka saling adu mulut dan berteriak-teriak. Pertengkaran tersebut didengar oleh ayah mereka. Kakak-beradik tersebut pun dilerai dan remote televisi diambil oleh sang ayah. Untuk menghindari terjadinya pertengkaran lagi, sang ayah membuat peraturan di rumah. Isinya adalah televisi tidak boleh dinyalakan ketika malam hari sesudah makan malam sampai pagi keesokan harinya. Anak-anak tersebut pun patuh dan sepakat bahwa jam nonton televisi hanya saat sore hari. Pada saat malam hari, si adik terbangun dari tidurnya dan hendak ke toilet. Tidak sengaja dia melihat ayahnya sedang menonton bola di televisi, lalu spontan dia bertanya “lho, ayah kok nonton?”

Pada hari ini Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat atas sikapnya yang munafik. Apa yang dikatakan orang Farisi tentang peribadatan hanyalah sebatas omong kosong, toh mereka masih mencari kemuliaan untuk diri sendiri. Orang-orang Farisi mematuhi segala peraturan hukum Taurat, namun tidak memperhatikan orang lain. Mereka mematuhi hukum hanya karena sifat hukum itu sendiri, bukan karena menyadari Allah yang hadir dalam hukum tersebut. Bahkan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yesus pun mengecam ahli-ahli Taurat yang mengajarkan dan memperhatikan pelaksanaan hukum Taurat tanpa melaksanakannya dengan nyata.

Sepenggal ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana seseorang dapat dengan lantang memberikan perintah atau mengajarkan suatu nilai tanpa melakukannya. Sang ayah mempunyai sikap yang mirip dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yakni tidak melakukan apa yang dikatakan. Dalam bahasa Jawa, ada sebuah akronim berbunyi JARKONI, yang merupakan singkatan dari isa ngajar ora isa nglakoni. Artinya adalah bisa mengajarkan tapi tidak bisa melakukan. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kurang lebih seperti akronim tersebut. Mereka dapat mengajarkan hal-hal yang baik, namun tidak melakukannya, bahkan lebih parahnya lagi mereka melakukan kebalikan dari apa yang diajarkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sadar-tidak sadar memberi nasihat, mengajarkan, memerintah orang lain, namun kita juga tidak melakukannya. Seolah-olah apa yang kita katakan hanya berlaku untuk orang lain dan tidak berlaku untuk diri sendiri. Jika terjadi seperti itu, maka kita sudah bersikap munafik.

Yesus sangat tidak suka terhadap kemunafikan. Kita sebagai murid-murid yang percaya pada-Nya harus berusaha agar tidak seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Caranya adalah dengan menambahkan cinta dalam setiap apa yang kita katakan dan kita lakukan. Dengan adanya cinta, muncul nilai lain yakni ketulusan, seperti kita tulus menasihati orang lain demi kebaikan bersama atau kita tulus melakukan sesuatu demi orang lain. Dengan demikian, ada keselarasan antara apa yang kita imani, dengan apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan. Semoga cinta Yesus yang tak terbatas membuat kita semakin mampu untuk melakukan apa yang kita katakan dan mengatakan apa yang kita lakukan. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Ya Yesus, Engkau telah mengajarkan kami betapa pentingnya cinta kasih sebagai landasan semua perbuatan. Dengan kasih dan rahmat-Mu, bantulah kami untuk selalu dapat mengamalkan cinta kasih ini lewat perkataan dan perbuatan yang selaras dengan kehendak-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.