Hati-hati dengan Zona Nyaman

Jumat, 18 Oktober 2019
Pesta St. Lukas, Penulis Injil
Bacaan I : 2 Tim. 4:10-17b
Mazmur   : 145:10-11, 12-13ab, 17-18
Injil    : Lukas 10:1-9

ADA seorang anak SMA dengan kecerdasan di atas rata-rata, dan prestasinya di sekolah pun sangat baik. Ia selalu menjadi juara atau ranking 1 di kelasnya. Kegiatannya di rumah pun cenderung teratur. Makan teratur, bangun pagi untuk mandi, sarapan, dan pergi sekolah, siap dengan perlengkapan belajar dan pekerjaan rumah yang sudah diselesaikan dengan baik. Namun sepulang sekolah, ia selalu memilih untuk beraktivitas sendirian di kamar dan sibuk sendiri dengan telepon genggamnya, sementara keluarganya bercengkerama di ruang keluarga. Saking terlalu asyik dengan ‘dunia kecil’nya di kamar, ia hanya berinteraksi ala kadarnya dengan keluarganya. Jika dipanggil orangtuanya pun, ia kadang tidak mendengar. Beberapa kali ia ditegur oleh orangtuanya, namun tidak ada perubahan sikap.

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, berada dalam zona nyaman memang menyenangkan. Seperti anak dalam kisah di atas, dunia kecil yang ia ciptakan di dalam kamarnya telah menjadi zona nyamannya. Zona nyaman ini bisa diartikan sebagai situasi di mana kita merasa inilah dunia yang cocok bagi saya, inilah situasi yang tepat bagi saya, inilah yang saya suka, dan lainnya. Dalam keadaan nyaman tersebut, hidup kita mungkin terasa tanpa beban. Ego diri kita terpuaskan.

Namun dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan perutusan kita sebagai ‘agen’ perubahan yang membawa sukacita dan kasih Allah bagi sesama. Sebagai agen yang juga merupakan citra Allah sendiri, kita diutus untuk keluar dari diri kita sendiri dan pergi ke tengah-tengah masyarakat, membawa damai dan bahkan menyembuhkan yang sakit. Sikap acuh tak acuh pada sesama dapat menghalangi mandat pewartaan Injil yang diberikan kepada semua umat beriman.

Teladan untuk berani keluar dari zona nyaman telah ditunjukkan oleh Santo Lukas yang karya dan hidupnya dirayakan oleh Gereja pada hari ini. Santo Lukas adalah seorang dokter Yunani yang kafir. Namun, hidupnya berubah setelah ia mengenal Kristus melalui pewartaan Santo Paulus. Meski ia tidak pernah berjumpa dengan Yesus semasa hidup-Nya di dunia, Santo Lukas menulis Injil berdasarkan informasi dari para saksi yang mengenal-Nya secara langsung. Ia pun kemudian giat menyertai Santo Paulus dalam setiap pewartaan hingga akhir hayatnya.

Kisah hidup Santo Lukas menunjukkan betapa situasi riil di tengah jemaat menjadi ladang pewartaan yang harus kita garap. Meski saat ini kita merasa nyaman hanya dengan diri dan dunia kita sendiri saja, ada banyak hal yang dikehendaki Tuhan untuk kita lakukan di luar sana. Kita dipanggil untuk berjumpa dengan orang-orang lain, membangun hubungan dalam persekutuan dengan Allah. Tindakan ini bisa kita mulai dari orang-orang terdekat kita, misalnya keluarga. Alih-alih banyak menghabiskan waktu untuk sibuk dengan aktivitas sendiri, kita perbanyak interaksi yang berkualitas dengan anggota keluarga kita. Mungkin akan terasa tidak nyaman, sulit, dan banyak tantangan. Namun dalam situasi itulah relasi kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita belajar banyak dari Yesus sendiri, sang Guru spiritualitas yang tidak pernah lelah untuk umat-Nya.

Dalam setiap situasi–nyaman atau pun tidak, Ia selalu dekat dengan kita. Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, mari kita aktif melibatkan diri dalam misi Gereja untuk mewartakan Kristus, dan setia melayani Dia dengan penuh belas kasih. (Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara / RDHJ)


Allah yang berbelas kasih, Engkau telah mengutus kami untuk menghasilkan buah. Melalui inspirasi dan kekuatan dari karya Putra-Mu serta para rasul-Nya, semoga kami pun selalu menjadi pewarta Injil-Mu yang setia. Sebab Engkaulah Tuhan sumber hidup dan keselamatan kami semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.