Ber-D.O.(S).A

Sabtu, 19 Oktober 2019 
Pekan Biasa XXVIII 
Bacaan I : Roma 4:13,16-18
Bacaan Injil : Lukas 12: 8-12

SAUDARA-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, percayakah engkau akan karya Roh Kudus? Percayakah Roh Kudus berdaya mengubah seseorang? Percayakah Roh Kudus menuntun seseorang? Saya percaya! Dan saya juga yakin Anda semua pun demikian.

Manusia memiliki peluang untuk menjadi jahat, tetapi manusia memiliki peluang juga akan pengampunan. Roh Kudus menuntun seseorang pada pengampunan yang luar biasa, seberapa besar pun dosa yang telah diperbuat. Saya sungguh bersyukur menjadi seorang Katolik, karena Gereja Katolik memiliki sakramen pengampunan. Gereja selalu menerima umatnya yang ingin bertobat, sebab keinginan bertobat adalah bentuk nyata karya Roh Kudus. Sebab, tidak semua orang dapat sadar bahwa dirinya telah berdosa ataupun melakukan dosa. Bahkan pada setiap orang yang rajin berdoa, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka masih melakukan dosa. Karena kata doa, bila huruf ‘s’ disisipkan antara ‘o’ dan ‘a’ akan menjadi dosa. Huruf ‘s’ yang saya maksudkan di sini merujuk pada ‘setan’. Setan senantiasa mengganggu orang-orang yang dekat dengan Allah.

Dalam hidup saya, Roh Kudus berkarya dalam dua hal. Pertama, Ia mengubah Kuntoro menjadi Damian; kedua, Ia menjubah, yaitu membuat saya berjubah. Saya yakin pasti dalam hidup Anda Roh Kudus juga berkarya. Sadarilah itu dan jadikan sebagai motivasi ketika kita merasa jatuh dan kekeringan rohani.

Pada hari ini, kita disegarkan oleh pengajaran khusus dari Tuhan kita Yesus Kristus melalui Injil Lukas. Kalimat-kalimat dari Yesus memang terlampau tegas dan seakan bernada menakut-takuti. Tetapi, kalimat ini sesungguhnya ditujukan kepada orang Farisi yang berlaku munafik, seolah-olah hidupnya penuh dengan doa tetapi perilakunya seperti setan. Yesus dalam hal ini ingin mengingatkan serta mengajarkan kepada para muridnya untuk berlaku jujur dan terus terang. Manusia memang dapat membunuh raga lahiriah, tetapi yang memutuskan hidup atau mati, anugerah atau hukuman hanya Allah semata. Yesus mencoba untuk menjauhkan rasa takut dengan sebuah senyuman di tengah-tengah ungkapan yang keras (ay 12).

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, keadaan emosional setiap orang berbeda-beda. Kita tidak tahu kapan rasa marah, dengki, iri, sombong, dendam, dan ingin melukai itu muncul. Kehidupan yang penuh dengan hiruk pikuk di jalan yang macet, di kantor yang sibuk, di sekolah yang melelahkan, atau bahkan di rumah yang tidak kondusif, kadang dapat memicu munculnya emosi negatif. Kalimat dari Yesus sungguh memberi penerangan bagi kita yang mengalami hal itu; “janganlah kamu kuatir… sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu (lakukan) katakan”(ay 11-12).

Mari saudara, kita bersama-sama menenangkan hati dan meminta karya Roh Kudus hadir ke dalam diri kita masing-masing dalam doa. Terutama mari kita mendoakan orang-orang yang menolak Roh Kudus serta orang-orang yang meragukan karya Roh Kudus. Tuhan memberkati. (Fr. Petrus Damianus Kuntoro)


Allah Bapa, saat hidup terasa berat, terkadang kami ragu akan kuasa Roh-Mu yang sesungguhnya selalu ada bersama kami. Dalam tiap doa dan kegiatan kami, semoga kami selalu mampu menyadari gerak Roh Kudus yang mengarahkan kami pada kedamaian di dalam-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.