Mengetahui berarti Melakukan

Rabu, 30 Oktober 2019
Pekan biasa XXX
Bacaan I  : Rm. 8: 26-30
Mazmur    : Mzm 13: 4-5.6
Injil     : Luk. 13: 22-30

SUATU ketika ada sekelompok pemuda hendak pergi ke suatu tempat menggunakan kereta api. Setelah membeli tiket, mereka menunggu di luar stasiun sambil bercakap-cakap. Waktu keberangkatan kereta yang masih lama membuat mereka terlalu santai. Mereka dengan tenangnya ngobrol, bahkan sampai tertidur karena yakin akan ada pengumuman yang memberitahukan kereta akan berangkat. Saking nyenyaknya mereka tidur, akhirnya suara pengumuman pun tidak terdengar dan mereka ketinggalan kereta.

Injil hari ini menceritakan perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya dengan nada pesimis, apakah hanya sedikit orang yang diselamatkan. Yesus tidak menjawab secara langsung dan jelas, malahan Yesus menjawab dengan perumpamaan tuan rumah yang menutup pintu rumahnya. Yesus berpesan untuk berjuang masuk melalui pintu yang sempit, karena jika pintu telah ditutup, maka orang-orang akan berdiam diri di luar sambil memohon agar pintu dibukakan. Menurut Yesus, sekadar pengalaman telah makan dan minum bersama dengan tuan rumah tidak cukup sebagai syarat untuk dapat masuk ke dalam rumah. Orang-orang yang tidak diperbolehkan masuk adalah orang-oran yang hanya mendengarkan ajaran Yesus namun tetap berbuat kejahatan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, orang-orang tersebut tidak diperkenankan mengalami keselamatan pada akhir zaman jika tidak bertobat.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang nilai-nilai Kristiani yang baik dan luhur hanya kita ketahui tanpa kita lakukan. Nilai-nilai yang kita dapat dari pengajaran sekadar membuat kita tahu, namun belum sampai pada tindakan nyata. Tahu tentang Yesus saja tidak membuat kita berkembang menjadi orang Kristiani yang berkualitas dan mengalami keselamatan. Perlu ada tindakan nyata untuk mewujudnyatakan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan saja tidak menjamin untuk dapat mengalami keselamatan. Jangan sampai kita menjadi seperti para pemuda dalam kisah di atas yang terlalu santai karena merasa terjamin akan mendengar pengumuman dan sudah memiliki tiket. Pada akhirnya, para pemuda tersebut malah ketinggalan kereta.

Berjuang untuk masuk melalui pintu yang sempit dapat dimaknai sebagai proses mengetahui, merenungkan, dan melakukan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari bersama orang lain dan alam ciptaan. Yesus menuntut kita sebagai  murid-Nya untuk bertindak benar, saling mengasihi, bertindak adil, dan ikut memanggul salib-Nya. Semoga dengan semakin mengetahui nilai-nilai Kristiani, kita pun dapat semakin mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (Fr. Ignatius Bahtiar)


Allah Bapa, rasa nyaman yang semu terkadang membuat kami lalai mengamalkan kehendak-Mu. Semoga dengan ilham dan dorongan Roh-Mu, kami mampu menjadi umat-Mu yang sungguh mengenal dan sungguh menghidupi kasih-Mu dalam keseharian kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.