Urip Iku, Mung Mampir Ngombe

Sabtu, 2 November 2019
Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman 
Bacaan I     : 2Mak 12: 43-46
Bacaan II    : 1Kor 15: 12-34 
Bacaan Injil : Yoh 6: 37-40

SAYA merupakan keturunan Jawa tulen: ayah saya dari Wates dan ibu saya dari Samigaluh, Kulonprogo. Menurut kebudayaan orang Jawa, hidup kita di dunia ini hanya sementara. Ada kehidupan yang abadi di luar kehidupan di bumi ini, entah di mana. Konsep kehidupan itu dirangkum dalam sebuah ungkapan kearifan; urip iku, mung mampir ngombe (hidup itu, ibarat numpang minum).

Kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian, mendekatkan kami (orang Jawa) pada konsep kebangkitan. Bangkit dalam hal ini memiliki dua makna: secara profan berarti bangun; berdiri; kembali pada masa kejayaan. Secara spiritual berarti keadaan manusia diangkat dari dunia kematian menuju surga/kerajaan Allah. Bacaan hari ini berisi penghiburan dari Yesus melalui Injil Yohanes, bahwa kelak orang-orang yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan. Pemahaman spiritual ini menumbuhkan sebuah tradisi untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal, seperti tiga hari, tujuh hari, seratus hari, atau berdoa di makam leluhur.

Suatu hari, saya memiliki pengalaman ikut bersama keluarga berziarah ke makam mbah kakung. Kami semua berkumpul di sekeliling makam, lalu membersihkan rumput-rumput liar dan debu yang menempel di keramik. Semua ini diakhiri dengan menabur bunga dan berdoa bersama-sama. Dalam doa, seringkali ayah saya berkomunikasi dengan mbah sambil meletakan tangan di makam. Komunikasi yang dilakukan berisi permohonan restu, meminta doa kepada leluhur agar menyampaikan rasa syukur kita.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini kita memperingati Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman. Biasanya, dalam masa ini umat Katolik melaksanakan tradisi mengunjungi makam leluhur dan kerabat. Gereja percaya bahwa orang-orang beriman yang telah meninggal kini bersatu dengan persekutuan para kudus dalam Kerajaan Allah. Oleh karena itu, doa dan syukur yang kita panjatkan berperan untuk memberi support, sekaligus mengingatkan kita yang masih berziarah di dunia ini untuk hidup dalam iman yang teguh kepada Allah Bapa di Surga.

Mari saudara-saudari, pada hari ini kita hening sejenak, mengambil sikap hikmat untuk mengenang semua orang beriman yang telah meninggal, karena mereka telah dibenarkan dalam iman kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat kita. Renungan hari ini mengajak kita yang masih berziarah di bumi untuk selalu memanfaatkan kesempatan dengan mempersiapkan diri dan tetap teguh dalam iman kepada Yesus Kristus. Tuhan memberkati. (Fr. Petrus Damianus Kuntoro)


Allah Yang Maharahim, kebangkitan Yesus Putra-Mu telah membuka jalan bagi kami semua untuk bersekutu dengan-Mu bahkan setelah kehidupan ini berlalu. Semoga hari ini menjadi pengingat bagi kami semua untuk selalu hidup dalam jalan kekudusan-Mu, hingga akhirnya nanti kami boleh berkumpul kembali dengan seluruh kerabat dan para kudus untuk memuliakan-Mu selama-lamanya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.