Berani Bersaksi Meski Disakiti

Rabu, 27 November 2019
Pekan Biasa XXXIV
Bacaan I    : Dan. 5: 1-6.13-14.16-17.23-28
Mazmur      : T.Dan. 3: 62.63.64.65.66.67
Injil       : Luk. 21: 12-19

SEORANG siswi SMA memiliki kesulitan dalam pelajaran fisika. Nilai-nilai ulangannya tidak memuaskan karena seringkali tidak lulus. Ia tidak sendirian merasakan pengalaman tersebut; rata-rata teman sekelasnya pun memiliki kesulitan dalam mengerjakan ulangan Fisika. Pada suatu ulangan, teman-temannya berencana membuat sontekan yang diselipkan pada tempat pensil dan kaus kaki. Ia menolak ajakan temannya karena merasa bertentangan dengan kebiasannya berbuat jujur. Ia pun dirundung oleh teman-temannya karena tidak mau bergabung. Ia dikatakan “sok suci” dan “munafik”. Alhasil, ketika hasil ulangan dibagikan, hanya segelintir orang yang tidak lulus, termasuk siswi tersebut. Ia merasa sedih karena nilainya tak kunjung membaik, namun di satu sisi ia merasa leibih baik daripada teman-temannya yang menyontek.

Lukas mengambarkan bahwa akhir zaman akan ditandai dengan berbagai peristiwa, seperti penganiayaan, nabi-nabi palsu, peperangan, runtuhnya Bait Allah dan kota Yerusalem. Injil pada hari ini menegaskan salah satu dari sekian banyak peristiwa tersebut, yakni penganiayaan. Para murid akan mengalami penganiayaan, baik dari penguasa sesama bangsa Yahudi maupun dari penguasa luar Yahudi. Iman yang dimiliki oleh para murid membuat penganiayaan tidak mempunyai taji. Para murid tetap berani bersaksi dan mewartakan Injil karena yakni bahwa Yesus sendiri yang menyertai. Walaupun penganiayaan datang tak kunjung henti, Yesus tetap meneguhkan dan menjamin mereka dengan berkata bahwa “tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang”. Artinya adalah ada kehidupan kekal yang diberikan Yesus sesudah akhir zaman.

Kita tidak tahu kapan datangnya akhir zaman, namun yang pasti kita ketahui adalah penderitaan dan penganiayaan pasti datang dalam hidup kita. Jangan selalu mengartikan penderitaan dan penganiayaan sebagai penyiksaan fisik seperti ditawan, dikeroyok, korban perang, dan lain-lain. Penderitaan dan penganiayaan dapat muncul berupa tekanan mental dari lingkungan yang buruk di sekitar kita, atau dapat berupa cacian dan pandangan aneh karena kita berbeda dari kebanyakan orang. Di saat-saat itulah, para murid berani tetap teguh untuk bersaksi. Ketika para murid berbeda dengan kebanyakan orang Yahudi yang membenci Yesus, mereka tetap mewartakan Kabar Gembira.

Kisah siswi SMA di atas pun menggambarkan bagaimana kita bisa berusaha untuk tetap teguh memegang kebaikan di tengah-tengah lingkungan yang menuntut untuk berbuat jahat. Jika dilihat lebih jauh, penderitaan dan penganiayaan memiliki dua manfaat. Pertama, yakni membuat diri kita semakin kuat menghadapi masalah. Kedua, memberi kesempatan kepada kita untuk bersaksi tentang Kebenaran. Kebenaran yang dimaksud tak lain dan tak bukan ialah Injl dan Kristus. Kedua manfaat tersebut akan didapatkan tatkala penganiayaan dihadapi sebagai orang beriman yang memegang teguh kebenaran.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk seragam dalam segala sisi (hobi, kesukaan, fashion, bacaan, kebiasaan, dan lain-lain), kita dituntut kritis agar tidak menjadi generasi yang hanya mengikuti arus tanpa tahu itu arus baik atau arus jahat. Jika ada dalam arus baik, kita perlu bersyukur dan menjaga konsistensi dengan perbuatan dan perkataan yang mencerminkan murid Yesus. Akan tetapi, jika kita ada dalam arus jahat, kita harus berani bersaksi di tengah penganiayaan dengan tetap menunjukkan hal-hal baik dan benar. Semoga Yesus sendiri yang menguatkan kita untuk tetap mampu bersaksi di tengah penderitaan dan penganiayaan yang ada di dunia ini.

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Ya Yesus, berilah kami kekuatan untuk teguh berpegang pada Firman-Mu sekalipun dunia menganiaya kami. Semoga kami tidak malu ataupun gentar untuk menjadi berbeda dari lingkungan sekitar karena mewartakan kasih-Mu, sehingga kami bisa selalu memuliakan nama-Mu, sekarang dan selamanya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.