Ketakutan dan Harapan

Kamis, 28 November 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa 34
Bacaan 1    : Dan. 6:12-28
Mazmur      : T.Dan. 3:68,69,70,71,72,73,74
Injil       : Luk. 21:20-28  

TARO, seorang anak SD kelas 1 berusia 7 tahun, diberi pesan oleh ibunya sebelum ia berangkat sekolah bahwa ibunya tidak dapat menjemputnya di sekolah. Ibunya meminta tolong Arto, saudaranya yang sedang berlibur di rumahnya, untuk menjemputnya. Taro dan Arto memiliki selisih usia 13 tahun. Taro dan Arto ini baru beberapa kali bertemu di rumah Arto ketika Taro libur sekolah. Ibunya memberikan ciri-ciri Arto yang akan menjemputnya. Taro mendengarkan dengan saksama apa yang menjadi pesan ibunya. Sepulang sekolah, Taro melihat seorang pemuda dengan ciri-ciri yang dijelaskan oleh ibunya sedang duduk di kantin sekolah. Taro pun celingak-celinguk melihat pemuda itu dan berharap bahwa pemuda itu adalah Arto. Dengan harapan yang tinggi dan tanpa rasa takut, Taro pun menghampiri pemuda itu, dan benarlah bahwa pemuda itu adalah Arto yang ditugaskan untuk menjemputnya. Akhirnya, Arto dan Taro pulang ke rumah bersama-sama.

Dalam bacaan Injil pada hari ini, Yesus memberikan tanda-tanda yang menyiratkan akan kedatangan-Nya kembali. Tanda-tanda yang diberikan terkesan menyeramkan. Keruntuhan Yerusalem menjadi tanda-tanda akan datangnya Yesus. Nubuat ini terjadi karena bangsa Yahudi tidak mau bertobat karena kedatangan Mesias, dan tanda-tanda yang diberikan Yesus sungguh terjadi. Di zaman sekarang ini, semakin nampak juga tanda yang menyiratkan kedatangan-Nya yang kedua kali. Maka dari itu, sebagai orang yang beriman kepada-Nya, kita tidak perlu takut terhadap berbagai tanda-tanda yang menyeramkan itu. Kita harus percaya kepada-Nya, bertobat dan berpantas diri seraya berharap akan keselamatan yang akan Ia anugerahkan bagi yang setia kepada-Nya. Bertobat berarti tidak berpikir dua kali untuk berbalik dan menaruh pengharapan hanya kepada Allah. Orang yang tidak mau bertobat akan dipenuhi ketakutan ketika saat-Nya tiba, dan saat itu ia akan kehilangan harapan untuk diselamatkan.

Seperti Taro yang memiliki harapan bahwa pemuda yang sedang makan di kantin itu adalah saudaranya, demikian pun kita umat beriman setia dan berharap dalam menunggu kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya. Firman Tuhan telah memberikan tanda-tanda yang dapat dipercaya mengenai kedatangan-Nya. Tanda-tanda tersebut hendaknya membantu kita untuk terus berjaga-jaga dalam menyambut-Nya. Pusatkan perhatian untuk berjaga-jaga dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mari kita jalani hidup dengan penuh pertobatan serta pengharapan agar ketika waktu-Nya sudah tiba, kita dapat mengangkat kepala kita dan memuliakan Allah dalam kemah abadi-Nya.

[Fr. Michael Randy]


Allah Bapa yang penuh kasih, hati kami merindukan hadirat-Mu dengan penuh harap. Semoga kami dapat mengisi hari-hari kami dengan bijaksana, hingga saat Engkau datang kembali kami pun dapat menyambut-Mu dengan sukacita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.