Empat Sehat, Egoistik Sempurna

Rabu, 04 Desember 2019, 
Hari Biasa Pekan I Adven
Bacaan I   : Yes. 25: 6-10a
Mazmur     : Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6
Injil      : Mat. 15: 29-37

SUATU ketika, ada seorang pemuda yang sedang merasa haus di tengah-tengah pedesaan. Ia ingin membeli minuman tetapi tak kunjung menemukan penjual minuman. Semakin ia berjalan mencari penjual minuman, ia pun semakin haus dan lapar juga. Di tengah perjalanan, ia menemui seorang kakek yang menawarkan sebuah gelang. Pemuda tersebut marah-marah karena yang ia ingin minuman dan makanan bukannya sebuah gelang. Lantas pemuda tersebut meninggalkan kakek itu lalu terus berjalan. Ketika menemukan sebuah rumah makan, ia merasa senang. Ditambah lagi sedang ada pesta di rumah makan tersebut yang membuat semua makanan dan minuman gratis untuk dinikmati. Akan tetapi, ketika ia hendak masuk ke dalam rumah makan itu, petugas keamanan melarang dan tidak memperbolehkan. Ternyata untuk dapat masuk dan ikut pesta tersebut, para pengunjung harus memakai gelang khusus. Pemuda tersebut menyesal karena tidak membeli gelang yang ditawarkan oleh seorang kakek di tengah jalan tadi.

Injil hari menceritakan Yesus yang menyembuhkan orang sakit dan memberi makan empat ribu orang. Dalam kisah tersebut terdapat dua tindakan penting yang Yesus lakukan, yakni menyembuhkan dan memberi makan. Orang-orang menderita pada zaman Yesus hidup digambarkan sebagai orang yang sakit, seperti lumpuh, kusta, bisu, dan kerasukan, dan juga digambarkan sebagai orang yang butuh makan. Yesus dengan tulus hati menolong orang-orang tersebut. Yesus tak segan-segan menggunakan kuasa-Nya untuk mengambil penyakit dari orang-orang sakit dan membuat makanan yang sedikit menjadi cukup untuk empat ribu orang, bahkan berlebih.

Tak dapat dimungkiri, kebutuhan jasmani seperti kesehatan dan makanan merupakan kebutuhan pokok semua orang. Kultur modern zaman ini membuat orang berlomba-lomba untuk semakin sehat dengan mendandani diri dan mencari makanan yang enak dan mahal. Fungsi kebutuhan pokok tersebut pun lambat laun bergeser, dari yang semula hanya fungsi pemenuhan kebutuhan biologis sekarang berganti menjadi kebutuhan sosial dan pemenuhan ego. Dari yang berolah raga agar sehat dan bugar serta terhindar dari penyakit, sekarang berolahraga untuk pamer kepada orang lain bahwa mempunyai gaya hidup sehat. Dari yang makan agar tidak lapar atau pemuasan lidah akan kelezatan, sekarang bergeser menjadi ajang untuk pamer di instastory bahwa telah makan di tempat yang terkenal atau makan makanan yang sedang hits. Lambat laun, kita melupakan makna kebutuhan pokok tersebut yakni untuk dapat membuat kita terus hidup dan menjalani aktivitas dengan baik. Lebih jauh lagi, rasa syukur dapat hilang perlahan-lahan karena kebutuhan pokok dilihat hanya untuk pemenuhan ego.

Yesus memenuhi kebutuhan pokok orang sakit dan orang lapar bukan hanya agar orang-orang tersebut merasa sehat dan kenyang, namun Yesus ingin orang-orang tersebut lebih dekat dan mengenal Allah. Masa Adven ini menjadi waktu yang cocok untuk semakin berusaha mendekat kepada Allah dalam penantian Yesus yang akan hadir ke dunia. Kebutuhan-kebutuhan kita yang telah terpenuhi hendaknya mendorong kita untuk semakin bersyukur kepada Allah dan mendorong kita untuk semakin dekat dengan-Nya.

Allah membantu kita memenuhi kebutuhan dengan tujuan memberi kita harapan untuk semakin mencintai dan mengikuti-Nya, bukan malah mandeg pada pemenuhan ego. Jika kita tidak hati-hati, pemenuhan ego akan menjadi kebutuhan pokok kita, sehingga yang tadinya empat sehat lima sempurna berubah menjadi empat sehat egoistik sempurna. Semoga dalam masa Adven ini, kita semakin penuh harapan untuk dapat dekat dan mencintai Yesus yang akan datang nanti.

[Fr. Ignatius Bahtiar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.