Stereotip

Kamis, 19 Desember 2019 
Masa Adven 3
Bacaan 1    : Hak 13:2-7, 24-25a
Mazmur      : Mzm 71:3-4a, 5-6ab, 16-17
Injil       : Luk 1:5-25

PARA saudara yang dikasihi Tuhan, kata ‘stereotip’ mungkin sudah tidak asing bagi kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stereotip merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip lahir berdasarkan praduga yang subjektif, umumnya terhadap anggota kelompok baik secara positif maupun negatif. Stereotip biasanya menjadi dasar munculnya sikap-sikap diskriminatif terhadap kelompok tertentu, termasuk penghakiman terhadap sesama. Penghakiman terjadi jika melihat seseorang yang berasal dari kelompok tertentu tidak bertindak sesuai dengan sterotip yang ada. Bukan tidak mungkin penghakiman tersebut pun menjadi aib bagi orang tersebut.

Elisabet, dalam bacaan Injil pada hari ini, berkata bahwa kehamilannya merupakan perbuatan Tuhan untuknya, dan “Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang” (bdk. Luk 1:25). Aib merupakan produk dari stereotip secara tidak langsung. Stereotip yang diterima oleh Elisabet sebagai istri yang mandul menjadikan kehamilannya sebagai sebuah aib, bahkan aib ini diperparah karena Zakaria, suaminya, merupakan petugas doa di Bait Allah. Aib yang diterimanya membuatnya dicap berdosa dan tidak menjadikan dirinya tahir. Tetapi Tuhan sungguh-sungguh mendengarkan doa orang-orang yang tertindas. Tindakan-Nya untuk menghapus aib Elisabet dan menjadikannya tahir merupakan bentuk dari kasih-Nya yang sungguh luar biasa. Bagi Tuhan, semuanya tidak ada yang mustahil, termasuk menjadikan seseorang yang dikucilkan masyarakat sebagai sarana keselamatan-Nya. Kita juga mengetahui bahwa anak yang dilahirkan oleh Elisabet adalah Yohanes Pembaptis, nabi terakhir dan terbesar yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Penghapusan aib memiliki dampak yang besar bagi seseorang yang merasa tertekan selama hidupnya. Kita juga dapat berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan dengan tidak mudah tergiring oleh stereotip, terutama tentang label-label negatif yang melekat pada diri orang lain. Maka dari itu dalam mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran-Nya, marilah kita melatih diri untuk tidak mudah menghakimi orang lain dengan stereotip, dan tidak membawa praduga yang negatif terhadap sesama.

[Fr. Michael Randy]


Allah Bapa, Engkau berkuasa menjadikan segala sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia. Ketika kami dilanda keraguan, tuntunlah kami untuk tetap berpegang teguh pada janji-Mu, dan berharap pada rancangan-Mu yang mulia. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.