Salam Maria

Sabtu, 21 Desember 2019
Hari Biasa Khusus Adven 
Bacaan I     : Kid 2:8-14
Bacaan Injil : Luk 1:39-45

KISAH dalam Injil hari ini berisi dialog antara dua perempuan tangguh yang melahirkan tokoh-tokoh sentral dalam karya penyelamatan Allah, yakni Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, Zakaria diberi janji bahwa anaknya akan dipenuhi dengan Roh Kudus (bdk. Luk 1:15). Dan dalam kisah Maria, ia dikandung oleh kuasa Roh Kudus. Hal ini merupakan pemenuhan janji dari seorang malaikat Tuhan kepada Zakaria ketika Maria mengujungi Elisabet. Bayi yang ada di dalam rahim Elisabeth melonjak penuh kegirangan karena menerima Roh dari kehadiran Yesus.

Menjadi lebih menarik ketika Elisabet mengungkapkan ‘siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?’ Kata-kata ini mengingatkan kisah Daud yang terheran-heran karena tabut perjanjian dikembalikan ke Yerusalem sesudah dirampas oleh orang-orang Filistin (2 Sam 6:9). Peristiwa ini menjadi serupa karena Tabut melambangkan kehadiran Yahweh, Allah Israel. Sedangkan kedatangan Maria menyucikan rumah Elisabet dengan hadirnya Tuhan.

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini saya sangat tertarik dengan salam dari Maria kepada Elisabet. Dalam tradisi, kidung Maria disebut sebagai Magnificat. Terinspirasi dari kidung yang dinyanyikan Hanna, ibu nabi Samuel, sesudah kelahiran anaknya lewat campuran tangan Ilahi (1Sam2:1-10). Dalam terminologi bahasa Indonesia, kata ini dikenal dengan sebutan ‘diberkatilah’ yang merupakan terjemahan lebih baik dari pada ’terpujilah’ (rumusan doa salam Maria). Yang melatarbelakangi itu semua yaitu kata Ibrani ‘barukh’ yang menunjuk pada berkat Ilahi, terutama berkaitan dengan seseorang yang memperoleh keturunan (bdk. Kej 1:28;12:2-3).

Bila hidup kita dipenuhi dengan Roh Kudus, salam dan sapaan kita tentunya akan menyegarkan, atau mungkin membuat hati banyak orang sejuk dan nyaman. Kisah bayi yang dikandung Maria yaitu Yesus Kristus memberikan Roh Kudus kepada rahim Elisabet melambangkan permuliaan Yesus kelak, bahwa Dia akan memberikan Roh Kudus kepada semua orang beriman (bdk. Kis 2:33). Melalui kisah ini pula, Gereja Katolik mengadopsi doa ‘Salam Maria’ sebagai devosi kita kepada Bunda Maria. Melalui kisah dan devosi ini, kita sungguh diperkaya dengan pengetahuan tentang iman akan Yesus Kristus Sang Juru Selamat kita.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kekuatan salam dan sapa sangat kuat bila dilaksanakan. Ketika pagi hari menyapa ibu kita dengan senyuman, ibu kita pun akan merasa semangat menjalani hari ini. Ketika gebetan yang kita sukai menatap wajah kita sambil tersenyum, maka seluruh hari kita menjadi berbunga-bunga. Ketika seminggu sekali kita datang ke Gereja menatap dan menyapa Allah, maka Roh kita pun akan melonjak-lonjak. Maria sungguhlah sesosok ibu yang mengajarkan kita kekuatan doa lewat sapaan dan salam. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa meneguhkan hati kita dan terus bertekun dalam doa.

[Fr. Petrus Damianus Kuntoro]


Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.