Yesus, Hadiah Terbesar bagi Dunia

Rabu, 25 Desember 2019
Hari Raya Natal

Bacaan I  : Yes. 52: 7-10
Mazmur    : Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4.5-6
Bacaan II : Ibr. 1:1-6
Injil     : Yoh. 1:1-18

SUATU desa terkena pemadaman listrik bergilir. Sudah hampir seminggu mereka merasakan kegelapan dari sore hari sampai pagi. Perangkat desa terus-menerus membagikan lilin kepada warga. Akan tetapi, warga tidak puas karena lilin belum bisa mendukung aktivitas yang membutuhkan listrik. Lalu, kepala desa pun membelikan genset untuk memberi pasokan listrik tambahan. Akhirnya, para warga desa pun dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa walaupun dalam waktu yang terbatas.

Bacaan Injil yang kita dengar pada hari raya Natal ini merupakan prolog yang mengidungkan wahyu Allah dalam diri Yesus sampai dengan kesaksian Yohanes Pembaptis. Dengan firman-Nya, Allah telah menciptakan segala sesuatu: alam raya, tanaman, hewan, dan juga manusia. Melalui ciptaan-ciptaan tersebut, Allah ingin manusia lebih mengenal dan dekat dengan diri-Nya, sehingga dapat hidup dalam terang. Akan tetapi, manusia lebih suka hidup di dalam kegelapan yang berlumur dosa daripada datang kepada terang.

Di tengah kegelapan itulah, Allah mewahyukan diri-Nya secara lebih, yakni dalam sosok Yesus. Yesus yang hadir di dunia merupakan pernyataan diri Allah yang penuh kasih. Ia ingin mengangkat manusia dari situasi kegelapan menuju terang. Dalam diri Yesus terdapat kemuliaan Allah yang penuh kasih dan setia, melebihi kemuliaan-Nya dahulu melalui Taurat Musa. Sosok penyelamat dalam Perjanjian Lama, yaitu Taurat Musa telah diperbaharui secara total, yakni dengan kehadiran Yesus dalam Perjanjian Baru.

Natal merupakan momen istimewa dalam kehidupan beriman kita. Gemerlap cahaya lampu natal, warna-warni ornamen natal, cerianya lagu-lagu natal melambangkan Sang Terang yang datang ke dunia untuk mengangkat manusia dari kegelapan. Ada kebahagiaan di dalamnya karena kita umat manusia akan segera diselamatkan dan lebih dekat dengan Allah. Seperti kisah warga desa di atas, penantian kita akan Terang tersebut tidaklah sia-sia. Dengan hadirnya Yesus, umat manusia mempunyai relasi baru dengan Allah, yakni relasi anak dengan Bapa. Sebagaimana seorang ayah ingin hal yang terbaik untuk anaknya dan ingin anaknya selalu selamat dan berkembang hidupnya, demikian juga Allah ingin manusia selamat dan berkembang hidupnya dengan cara meninggalkan kegelapan.

Yesus merupakan hadiah terbesar bagi umat manusia. Pemikiran dan tindakan-Nya telah mengubah wajah dunia. Dengan kasih dan kesetiaan-Nya, kita umat beriman selalu diajak untuk hidup baik dan menjauhkan diri dari dosa. Natal yang istimewa dapat terasa biasa saja dan flat dengan pemikiran semacam ‘toh tiap tahun kita merayakan Natal juga’. Tanpa pemaknaan yang mendalam akan Yesus sebagai hadiah terbesar bagi dunia, kita akan kehilangan kekhusyukan dan kesederhanaan Natal sehingga Natal hanya merupakan perayaan hura-hura belaka.

Semoga Natal tahun ini memberi damai dan sukacita di hati kita, keluarga, dan bangsa Indonesia. Tuhan memberkati.

[Fr. Ignatius Bahtiar]


Allah Bapa di Surga, kami bersyukur atas kemurahan hati-Mu yang tak pernah berakhir. Di hari Natal ini, kami bersukacita karena Engkau sendiri telah datang ke antara kami melalui Yesus Kristus. Semoga terang yang dibawa Yesus selalu hadir pula dalam hati kami, hingga kami pun mampu meneruskan terang itu bagi dunia sambil menantikan kedatangan-Nya kembali. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.