Kebaikan Dikenal dari Buahnya

Kamis, 30 Januari 2020 
Pekan Biasa III
Bacaan 1  : 2Sam. 7:18-19,24-29
Mazmur    : Mzm. 132:1-2,3-5,11,12,13-14
Injil     : Mrk. 4:21-25

AMIN, seorang siswa sekolah menengah pertama, mendapat julukan ‘paling serius’ di sekolahnya. Julukan ini diberikan oleh teman-temannya karena Amin sangat jarang mau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Ia selalu memilih untuk langsung pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Namun, teman-temannya tidak mengetahui bahwa ternyata Amin aktif di karang taruna RT/RW di tempat tinggalnya. Di sana, Amin dikenal sebagai seseorang yang baik hati, mudah bersosialisasi dan tidak sombong. Suatu ketika, terjadi perselisihan antar sekolah di sebuah gang dekat sekolahnya. Terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan murid-murid sekolahnya Amin berselisih paham dengan sekolah lain. Karena penasaran, Amin pun menghampiri kerumunan perselisihan tersebut dan melihat bahwa pemimpin dari sekolah lain tersebut adalah kerabat baiknya di karang taruna. Lalu ia menghampiri kerabatnya itu, membantu memediasi kesalahpaham tersebut, dan kedua kelompok itu akhirnya sepakat berdamai karena kesalahpahaman tersebut sudah diselesaikan tanpa ada baku hantam.

Siapa yang tidak mengenal peribahasa ini: “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”? Bacaan Injil pada hari ini menyampaikan pesan yang serupa dengan peribahasa tersebut, namun dalam sudut pandang yang positif. Bahwa pada akhirnya “tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap” seperti yang tertulis pada Markus 4:22. Salah satu ciri perbuatan baik yang sungguh-sungguh baik adalah perbuatan itu menghasilkan buah-buah yang baik, walaupun dalam prosesnya terdapat tanggapan negatif yang diterima dari orang lain, mulai dari cibiran sampai diskriminasi. Perbuatan baik yang kita lakukan tersebut pada akhirnya menyiratkan kasih Allah yang tak terbatas karena kita adalah anak-anak-Nya. Orang bisa mengenali kasih Allah karena perbuatan baik kita kepada sesama.

Janganlah takut untuk berbuat baik. Janganlah takut untuk mewartakan kebenaran. Jangan takut untuk bermisi mewartakan kabar baik kepada sesama kita walaupun banyak tantangan, rintangan, dan hambatan. Kabar baik yang kita terima hendaknya jangan disimpan sendirian. Marilah kita berusaha untuk tidak takut mewartakan kabar baik kepada sesama kita agar mereka semua dapat merasakan kasih Allah yang melimpah. Kalau memang sudah waktunya untuk mekar dan bersinar, bersinarlah dan jangan ragu seperti kupu-kupu yang keluar dari kepompong pada waktunya.

[Fr. Michael Randy]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.