Iman yang Tumpul

Sabtu, 1 Februari 2020
Hari Biasa, Pekan Biasa III
Bacaan I     : 2Sam 12:1-7a.10-17
Bacaan Injil : Mrk 4:35-41                                                             

SETIAP manusia pasti pernah melakukan kesalahan ataupun kelalaian, tetapi kerap kali sulit untuk mengakui kesalahan yang dibuatnya. Kesadaran semacam ini membutuhkan dorongan eksternal. Pada Perjanjian Lama, Nabi Natan yang menasihati raja Daud menjadi sebuah langkah awal dari pertobatan Raja Daud. Seringkali, pengingat dari orang lain ini memang penting bagi kita, sehingga kita yang masih berziarah di dunia ini bisa melihat kesalahan yang telah kita perbuat.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, kesadaran diri menjadi kunci yang penting untuk mengalami perubahan dalam hidup kita masing-masing. Kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk menentukan arah hidup kita, apakah kita mau menuju pertobatan atau tetap hidup dalam dosa. Oleh sebab itu, jangan ada keraguan dalam diri kita tentang Allah, terutama ragu bahwa Yesus Kristus datang ke dunia sebagai Mesias, utusan Allah.

Pada Injil hari ini, dinyatakan bahwa iman merupakan bukti dari segala sesuatu yang kita harapkan. Para murid ketakutan sampai hampir hilang kepercayaan kepada Yesus ketika diterpa ombak setinggi gunung dan angin taufan yang dahsyat. Saudara-saudari yang terkasih, kita sering kali terjebak untuk berkata seperti apa yang dikatakan para murid bila mengalami kejadian buruk seperti itu, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Para murid adalah sosok yang sangat dekat dengan Yesus, tetapi dalam keadaan seperti itu, masih saja muncul keraguan. Apalagi kita yang hidup 2000 tahun setelah itu, apakah dalam kegagalan, dalam doa-doa yang belum terjawab, dalam kesengsaraan, dalam musibah kita senantiasa berpikir “mengapa engkau mengabaikan aku, Tuhan?” Sungguh tumpul-lah iman orang semacam ini.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, setiap manusia dibekali iman dan akal budi untuk dapat memahami rancangan Allah. Namun, ada beberapa yang tumpul. Bagaimana cara mengetahui bahwa iman dan akal budi kita tumpul? Jawabannya adalah gunakanlah! Layaknya pisau yang tumpul, ketumpulannya dapat kita ketahui ketika kita gunakan untuk memotong.

Iman dan akal budi perlu diasah; doa adalah caranya. Maka sudah sepatutnyalah kita meminta Roh Kebijaksanaan dan Pengertian kepada Bapa, agar kita dikaruniai untuk menyampaikan maksud dan tujuan Allah pada dunia ini, terutama mewartakan sabda kedamaian.

[Fr. Petrus Damianus Kuntoro]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.