3B = Berusaha, Berdoa, Berharap

  • Selasa, 18 Februari 2020
  • Hari Biasa, Pekan Biasa VI
  • Bacaan I          : Yak. 1: 12 – 18
  • Bacaan Injil     : Mrk. 8: 18 -21

Seorang seniman juga seorang budayawan kelahiran Jember, Sujiwo Tejo dalam sebuah acara berbicara tentang “Penghinaan” terhadap Tuhan. yang menarik ialah bahwa yang yang dimaksudkan sebagai tindakan penghinaan terhadap Tuhan itu bukan soal membakar atau menginjak-injak Kitab Suci suatu agama mana pun [bukan berarti membakar atau menginjak Kitab Suci diperbolehkan-Red]. Dia mengatakan bahwa hal yang paling mendasar dalam tindakan menghina Tuhan adalah ketika kita khawatir tak bisa makan esok hari. “Menghina Tuhan tak sampai harus membakar Kitab Suci. Besok kau khawatir tak bisa makan, kau sudah menghina Tuhan.” Ungkapnya dalam sebuah sosial media. 

            Kekhawatiran para murid pada bacaan kali ini terutama pada bacaan Injil terdengar oleh Yesus. Para murid khawatir bahwa mereka tidak mempunyai roti yang harus mereka makan pada saat itu. Akan tetapi, Yesus menegur mereka bahkan menegur mereka dengan keras. Setelah mengikuti Yesus beberapa hari setelah Yesus mengadakan mukjizat, mereka tetap tidak mengerti tentang hal tersebut. Maka Yesus pun menegur mereka dengan mengingatkan kembali kepada para murid soal mukjizat yang dilakukan oleh Yesus ketika banyak orang yang mengikuti mereka. Pada saat itu Yesus mengadakan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan. Hal ini dilakukan oleh Yesus karena para murid masih tidak mengerti dan memahami apa yang mereka lakukan. Bahkan teguran keras itu terlihat jelas dengan kata-kata Yesus, “Telah degilkah hatimu?” Artinya, seberapa lama mereka mengikuti Yesus tetapi bila mereka tidak mengerti dan paham, kekhawatiran itu akan terus ada. 

            Sebagai manusia, kita tak luput dari rasa khawatir. Khawatir apakah akan rejeki esok hari, khawatir apakah nilai ujian bagi para mahasiswa, bagi seorang pengusaha, kekhawatiran akan keberhasilan dalam usaha menjadi sangat dominan. Sebagai seorang beriman, kekhawatiran itu muncul jika kita kurang berdoa, berusaha dan berharap akan penyertaan Tuhan. Ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 

            Dengan berdoa dan berharap, maka usaha yang kita lakukan akan selalu terberkati. Kita tidak terbebani dengan rasa kuatir yang berlebihan, melainkan menyerahkannya dalam kuasa Tuhan yang senantiasa memberikan yang terbaik dalam hidup kita. Dengan berdoa dan berharap, makan usaha kita akan seperti istilah do your best and let God do the rest.  (Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa)

Tuhan Yesus Kristus, hati dan telinga kami terkadang menjadi degil, tak mampu melihat Kuasa dan kehadiran-Mu secara nyata. Kuatkanlah kami untuk senantiasa mengimani Engkau sebagai sumber hidup dan terang di hati kami. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.