Mari Berdoa, Bukan Berdosa

Selasa, 3 Maret 2020
Pekan I Prapaskah
Bacaan I        : Yes. 55: 10-11
Bacaan Injil    : Mat. 6: 7-15 

SUATU ketika, Bowo sedang berpergian ke sebuah kota bersama dengan teman-temannya. Di dalam perjalanan menuju kota tujuan mereka, mereka melihat bahwa terjadi kemacetan yang begitu panjang. Kemacetan ini terjadi di rute yang akan mereka tempuh untuk pulang. Di sepanjang perjalanan, mereka bertanya-tanya bagaimana jika saat pulang mereka terkena macet yang panjang tadi. Setelah satu hari bermalam di kota tujuan mereka, sebelum melakukan perjalanan pulang Bowo mengajak teman-temannya untuk berdoa. Bowo pun memimpin doa sebelum melakukan perjalanan pulang. Selesai berdoa, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka heran sekaligus sangat bersyukur bahwa berkat doa tadi, macet panjang yang mereka lihat kemarin tidak terjadi lagi. Mereka pun sampai di rumah mereka tanpa harus merasakan jalanan yang macet.

Bacaan Injil pada hari ini mungkin sering kita dengar yakni tentang Yesus yang mengajari para murid-Nya berdoa. Yesus mengajari para murid berdoa dengan doa yang kita kenal hingga saat ini yaitu doa Bapa Kami. Di dalam doa yang Yesus ajarkan ini, tercantum rangkuman dari setiap permohonan kita, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Yesus melihat bahwa para murid selama ini ketika berdoa tidak langsung kepada intinya. Karena itu Yesus berkata dalam Injil “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.”

Yesus melihat bahwa hal ini sering terjadi: Doa yang penuh dengan kata-kata tetapi tanpa makna. Selain itu, Yesus juga mengajari para murid tentang kekuatan doa. Dalam hal ini Yesus pun ingin menyampaikan bahwa bila kita mengenal Allah, hendaklah kita berdoa kepada Allah. Kekuatan doa mungkin sering sekali kita dengar di berbagai kesaksian. Namun lebih dari sekadar permintaan kepada Tuhan, doa merupakan ciri khas orang beriman, bahwa kita menyadari diri sebagai manusia yang lemah di hadapan Allah. Dengan begitu, kita berdoa mohon agar diberi kekuatan.

Pada minggu ini juga kita masuk ke pekan I prapaskah, yang berarti kita mengawali masa pantang dan puasa kita sebagai bagian dalam pertobatan diri. Mengawali masa pantang dan puasa ini, tentu kita sadar bahwa selama empat puluh hari kita harus menahan apa yang menjadi kenikmatan ‘daging’. Baik itu makanan, perbuatan, tutur kata, atau apa pun itu yang berasal dari si jahat. Kita perlu menguatkan hati dan diri kita dalam menghadapi hal-hal tersebut. Tentu godaan dan cobaan dalam menahannya begitu banyak sekali. Maka satu-satunya harapan kita adalah dengan berdoa memohon agar diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk melewati masa ini. Berdoalah kepada Tuhan agar diberi kekuatan. Berdoalah kepada Tuhan agar dapat melewati cobaan. Sehingga pada akhirnya, kita mampu menjalani retret agung ini dengan penuh sukacita tanpa harus merasa dibebankan. Marilah berdoa agar diri terhindarkan dari sikap yang mengarahkan pada dosa.

[Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.