Mengekang Kesenangan

Jumat, 6 Maret 2020
Pekan I Prapaskah
Bac I. Yeh. 18:21-28
Mzm. 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8
Bac. Injil. Mat. 5:20-26

SAUDARA-saudari terkasih, mari kita sedikit mengingat masa saat kita kecil. Ambil contoh, ketika masih sekolah, saya pribadi dikenal oleh guru saya sebagai pribadi yang tenang dan tidak banyak bicara serta disiplin. Sampai pada suatu saat, pergaulan mengantar saya untuk keluar dari arus yang sudah baik ini dan saya sedikit berubah menjadi bandel. Waktu itu saya pernah memakai alasan pergi kerja kelompok hanya untuk pergi bermain dingdong. Permainan ini cukup marak di masa saya remaja. Waktu itu saya berbohong karena ingin pergi bermain, tapi bilang ke orangtua mau pergi kerja kelompok. Biasanya tidak ketahuan selama beberapa kali. Tapi, waktu itu saya mungkin sedang apes juga ternyata bapak ibu tahu bahwa saya tidak pergi kerja kelompok dan malah pergi bermain. Saat sore sampai di rumah, saya tidak dibukakan pintu dan saya dihukum tetap berada di luar rumah dalam waktu yang cukup lama dan didiamkan begitu saja.

Dari peristiwa ini, saya mencoba mengaitkan dengan bacaan liturgi hari ini dan ternyata kurang lebih sama. Sederhananya, siapa yang bersalah hendaknya dihukum, dan sebaliknya jika berbuat kebenaran, ia akan selamat. Sisi lainnya ialah saya yakin dan percaya bahwa Tuhan membukakan pintu maaf jika saya mau bertobat dan memperbaiki diri. Akan dapat apa nanti, tidak jadi soal. Setidaknya, kita sudah mengusahakan yang terbaik dan bertobat agar perbuatan kita itu mencerminkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan.

Lalu, bila kita kembali mengingat masa lalu dan berpatokan pada masa lalu yang banyak cerita tidak baiknya, apakah kita harus larut dalam masa itu? Tuhan justru menghendaki hal lain, yakni kita hendaknya berdamai dengan masa lalu. Kita mengampuni siapa saja yang membuat diri kita terjerumus dalam kesalahan.

Maka dari itu para saudara-saudari terkasih, di masa prapaskah ini belajar mengekang segala hal-hal yang hanya menyenangkan diri kita sendiri. Kita diajak untuk melihat lagi tentang bagaimana Tuhan bekerja di dalam dan melalui pribadi kita yang rapuh. Dengan sikap tobat yang benar, kebaikan pun bisa datang dari usaha kita untuk menyangkal diri terhadap hal-hal duniawi. Belas kasih Tuhan senantiasa memampukan kita untuk tetap kuat dalam menjalani hidup sehari-hari. Puasa dan pantang melatih pribadi kita untuk tidak gampang mengeluh.

Jika kita adalah manusia beriman yang kuat, kita percaya pada penyelenggaraan-Nya. Tuhan tahu segala niat baik dan perbuatan kita. Ia tak pernah luput menyertai kita dalam keadaan apapun. Tuhan memberkati.

[Fr. Wolfgang Amadeus Mario Sara/RDHJ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.