Cinta Tanpa Syarat

Sabtu, 7 Maret 2020
Hari Biasa Pekan Prapaskah I 
Bacaan I     : Ul 26: 16-19
Bacaan Injil : Mat 5:43-48

SAUDARA-saudara yang terkasih, beberapa waktu lalu dalam perjalanan dengan kendaraan roda empat, saya melihat sebuah papan iklan dari sebuah pabrik tembakau dengan tulisan : “LO YANG SALAH, LO YANG GALAK”. Menjadi permenungan bagi saya, kira-kira dari manakah asal kebencian, kekerasan, kemarahan, kriminal, dan lain-lain? Mengapa ada orang yang sadar telah berbuat salah, tetapi menutup dirinya untuk rendah hati dan meminta maaf, atau malah balik memarahi orang yang tidak bersalah?

Surat Yakobus 4 :13-15 memperlihatkan bahwa pencobaan bukan datang dari Allah, melainkan oleh keinginan manusia sendiri. Teramat jelas diungkapkan bahwa Bapa tidak menghendaki demikian. Ungkapan manusia secitra dengan Sang Pencipta (Kej 1:26) merupakan gagasan bahwa setiap manusia dianugerahi dua atribut dalam dirinya; yaitu atribut manusia dan atribut ilahi. Sejak awal diciptakan, manusia selalu memiliki daya untuk mengenal Allah walau hanya sedikit. Dalam hal ini, saya ingin mengajak saudara-saudari untuk berefleksi lebih dalam: apa jadinya apabila kita mengingkari atribut ilahi yang ada dalam diri kita? Bagaimana jadinya hidup kita bila hanya mengandalkan atribut manusia?

Saya akan memberikan sedikit gambaran secara metaforis untuk menjelaskan pertanyaan reflektif di atas. Bayangkan kita berada di sebuah gua yang gelap, dan di tangan kita hanya ada sebongkah kayu dengan sedikit api yang menyala di ujungnya. Kita memiliki jarak pandang yang terbatas, harus berhati-hati dalam mengarahkan api untuk menunjukkan jalan di depan, sementara kita tidak tahu apa yang akan kita temukan di ujung gua. Ketika api mulai redup, kira akan semakin kehilangan orientasi, gelisah, dan panik. Apalagi ketika api tersebut padam seluruhnya karena terkena tetasan air dari stalaktit.

Melalui kisah di atas, saya mengibaratkan artibut ilahi sebagai cahaya api, sementara gua tersebut adalah kehidupan kita di dunia ini. Manusia yang berziarah di dunia ini pasti membutuhkan sebuah cahaya atau terang untuk mendapat jalan yang benar. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kebingungan itulah yang akan terjadi bila kita menolak atau menjauhkan diri dari atribut ilahi. Kita akan kehilangan arah hidup. Ketika sudah kehilangan arah hidup, kita akan mencari dan meraba-raba hal lain untuk dijadikan pegangan dalam berjalan. Ketika meraba dan mencari hal itu, apakah dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Syukur kepada Allah, manusia tidak perlu meraba-raba, tidak perlu takut kehilangan cahaya, tidak perlu khawatir akan kesesatan,  karena Allah memberikan cahaya yang tidak pernah padam, yaitu diri-Nya sendiri (Yoh 3:16). Kita (manusia) bukan hanya diberikan obor/kayu api, melainkan DIA sendiri yang berdiri di depan kita dengan cahaya yang terang benderang dan tidak pernah padam. Kita hanya perlu berjalan mengikuti-Nya sampai ke tujuan akhir, karena dengan berjalan bersama dengan DIA semuanya akan terasa ringan (Mat 11:28).

Kita mendapat sebuah pesan yang sangat indah dari bacaan hari ini.: ‘Kasihilah Musuhmu’. Bila Anda membenci seseorang, tanyalah pada diri Anda sendiri, ‘mengapa aku membenci?’. Bila Anda memarahi seseorang, minta maaflah dan sadari kembali ‘mengapa aku sampai meluapkan kemarahanku seperti itu?’. Bila timbul keinginan untuk menyakiti seseorang, berdoalah dengan sungguh-sungguh agar keinginan itu sirna. Jangan sampai kita terjerumus di dalam kedagingan kita, padahal di dalam diri kita ada atribut ilahi. Atribut ini terutama adalah kasih tak bersyarat: hendaknya kita mengasihi orang lain, bukan karena jasa-jasa mereka kepada kita, namun karena Allah sudah terlebih dahulu melakukannya (Yoh 13:34; Kol 3:13).

[Fr. Petrus Damianus Kuntoro]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.