Rahmat yang Selalu Ada

Selasa, 14 April 2020

Hari Selasa Dalam Oktaf Paskah

Bacaan I          : Kis. 2: 36-41

Bacaan Injil     : Yoh. 20: 11-18

 

Suatu ketika di sebuah keluarga ada seorang ayah yang terlihat kebingungan. Ayah tersebut seperti kebingungan mencari apa yang hilang. Istri dan anaknya pun terheran atas apa yang dilakukan olehnya. Ayah masuk ke kamar tidur, lalu keluar lagi. Lalu ke kamar mandi, ke atas, ke teras rumah, ke ruang tamu. Setiap ruangan yang ada di rumah itu ia masuki untuk mencari sesuatu yang sepertinya hilang. Istri dan anaknya pun menduga bahwa apa yang hilang itu barang berharga miliknya. Akhirnya istrinya bertanya, “Ayah sedang mencari apa?”. Sambil masih mencari-cari ayah menjawab, “Kacamata ayah bu, kacamata ayah. Tidak tahu di mana itu.” Istrinya pun bertanya lagi, “Coba ingat-ingat kapan terakhir ayah menaruhnya?” Sambil mengingat dan mencari-cari di dekat sofa, istrinya menahan tawa. Ayah berkata, “Ibu malah tertawa bukan bantu mencari!” Sambil menahan tawa istrinya berkata, “Yah, itu loh lihat di kepala ayah.” Ayah pun memegang kepalanya dan ternyata sedari tadi kacamata yang dicarinya tergantung di atas kepalanya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, kita sudah memperingati sengsara, wafat, dan akhrinya merayakan kebangkitan Yesus. Bacaan kali ini terutama dalam Injil Yohanes mengisahkan tentang seorang perempuan yang bernama Maria Magdalena yang merasa kehilangan Yesus yang sebenarnya sudah bangkit. Dia berdiri dekat kubur dan menangis di situ. Sesaat dia sedang bersedih, dia tidak sadar bahwa Yesus yang sudah bangkit sedang berada di sana, dekat dengannya. Tanpa sadar pun ia malah menyangka Yesus sebagai seorang penunggu taman. Akan tetapi, ada hal menarik di sini yang ingin disampaikan oleh Yohanes. Seorang pengikut Yesus dan bahkan bukan termasuk kedua belas murid Yesus yang dipanggil menjadi murid-Nya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bahwa Yesus sudah bangkit. Bukan dari ‘kata’ orang. Bukan dari omongan orang. Bukan dari cerita orang. Tetapi Yesus yang bangkit hadir dihadapan dirinya, mmanggil namanya. Ketika itu tersadarlah ia bahwa orang itu adalah Yesus. Tidak berhenti di situ, tetapi apa yang dilihat oleh Maria, menjadi sebuah kesaksian bagi orang lain dengan ia berkata “Aku telah melihat Tuhan!”

Di dalam masa-masa yang sedang sulit ini, kita seringkali mengeluh karena merasa tidak bisa bertemu dengan Tuhan. Tidak bisa ke gereja untuk merayakan perayaan ekaristi secara langsung, tidak bisa menerima hosti kudus, tidak bisa menerima berkat secara langsung, dan lain sebagainya. Lantas beberapa dari kita menyayangkan dan lebih memilih untuk tidak mengikuti alternatif yang diberikan oleh gereja melalui perayaan ekaristi live streaming ataupun yang sejenisnya. Kita cenderung berkata dalam hati “lebih baik saya tidak misa daripada melihat sebuah layar”. Bukankah seharusnya kita bersyukur dengan apa yang sudah diberikan dan dengan segala keterbatasannya. Ini dilakukan untuk membantu kita semua agar tetap merasakan kehadiran Tuhan. Jangan kita justru hanya berusaha mencari dan mendapatkan Tuhan di gereja. Jangan pula kita terlalu mengeluh sehingga kita lupa bahwa Tuhan hadir dimanapun kita berada. Seperti nasihat Injil “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. ” Sebab, di tempat dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam Nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18: 20).  Maka marilah kita hayati lebih sungguh peristiwa ini. Karena seperti kata rasul Paulus, dibalik setiap peristiwa pasti ada rahmat yang tersembunyi. Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa

 

Allah Bapa yang Mahakusa, bantulah kami untuk terus menyadari bahwa kehadiran-Mu selalu nyata di dalam kehidupan kami. Bantu kami untuk semakin sadar akan kasih-Mu yang melimpah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.