Buka Mata dan Buka Hati

Oktaf Paskah

Rabu, 15 April 2020

Bacaan I          : Kis. 3: 1-10

Mazmur           : Mzm. 105:1-2.3-4.6-7.8-9

Injil                  : Luk. 24: 13-35

 

Suatu siang ada sekelompok anak kecil sedang bermain sepak bola di lapangan sekolah. Seorang anak tak sengaja terkena bola di wajahnya. Anak itu mengerang kesakitan karena ada debu dari bola masuk ke matanya. Teman-teman yang lain berusaha menolong, namun anak itu malah memarahi teman-temannya sambal menutupi matanya yang sedang kesakitan. Tak lama kemudian, ada seseorang datang menghampiri anak itu berusaha menolong. Si anak menolak, tetapi orang tersebut memaksa dan berkata ke anaknya “tenang, ini ibu guru”.

Injil hari ini berisikan kisah terkenal yang menceritakan perjalanan dua orang murid menuju Emaus. Hal yang membuat kisah ini menjadi terkenal adalah dua orang murid tersebut tidak menyadari bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Dua orang murid tersebut masih dirundung kesedihan karena Yesus wafat di kayu salib, dan kemudian mayatnya hilang di kuburan. Kesedihan tersebut membuat mereka tidak bisa menyadari bahwa orang yang hadir dan berjalan bersama mereka adalah Yesus sendiri.

Kita merayakan Paskah di tengah pandemic covid-19 ini, yang segala perayaannya terbatas, tidak semenarik dan meriah yang biasanya. Mayoritas umat hanya dapat merayakan dari layar kaca (live streaming). Belum lagi, korban tambah banyak berjatuhan. Seolah-olah kesedihan dan penderitaan umat beriman semakin berat. Maka, kita bias bertanya apa makna Paskah yang kita rayakan di tengah pandemi ini? Apakah masih ada harapan dan sukacita? Sejatinya, Paskah membawa harapan dan kemenangan karena Yesus telah berhasil mengalahkan maut. Kesedihan dan penderitaan membuat mata kita tertutup tidak bisa melihat dan merasakan suka cita dan harapan yang ada di sekitar. Seperti kisah seorang anak di atas, atau dua orang murid yang berjalan ke Emaus, kita pun dapat tidak merasakan makna kemenangan dan suka cita Paskah karena kesedihan dan penderitaan selalu menyelimuti kita.

Paskah kali ini mengajak kita untuk berani keluar dari kesedihan dan penderitaan yang menutup mata kita, menuju harapan dan sukacita yang dibawa oleh Yesus yang bangkit. Hal ini tidak berarti kita mengabaikan kesedihan dan penderitaan, atau bersikap acuh tak acuh terhadap musibah. Melainkan, Paskah mengajak kita untuk tetap mempunyai pengharapan dan suka cita walaupun kita  sedang bersedih dan menderita, bukannya malah diam tak berdaya di tengah penderitaan. Semoga Paskah di tengah pandemi covid-19 ini membuka mata kita untuk tetap bersyukur dan berpengharapan sekalipun sedang bersedih. Mari kita buka mata dan buka hati! Fr. Ignatius Bahtiar

Ya Tuhan, bantulah kami untuk selalu membuka mata kami terhadap rahmat dan kebaikan-Mu. Agar dalam penderitaan dan kesedihan, kami tetap menyadari kehadiran-Mu yang menyelamatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.