Iman melihat segalanya

Selasa, 21 April 2020

Hari Biasa Pekan Paskah II

Bacaan I        : Kis. 4: 32-37

Bacaan Injil    : Yoh. 3: 7-15

 

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang sedang mendaki gunung sendirian. Berhari-hari ia sudah mendaki gunung itu. Ketika sudah cukup lama mendaki, sampailah ia di puncak gunung dan beristirahat sejenak. Satu malam ia beristirahat sambil menikmati alam gunung yang sangat indah. Ia pun bersiap untuk segera turun dari gunung itu. Di tengah perjalanan turun dari gunung, hujan lebat mengguyur gunung tersebut. Pemuda itu tidak bisa mendirikan tenda karena sedang berada di jalur yang terjal. Tiba-tiba ia terperosok masuk ke jurang. Namun dengan kesigapannya ia masih memegang batang pohon sehingga ia masih bergelantung. Ia berteriak minta tolong, tetapi tak ada satu pun orang selain dirinya. Dia sudah pasrah akan segalanya. Akan tetapi, pemuda itu seperti mendengar suara, “Lepaskankah peganganmu”. Pemuda itu tidak percaya dan malah takut dengan suara itu. Kedua kali ia masih tidak percaya dan tidak mau melepas pegangannya. Ketiga kalinya, ia hanya pasrah saja dan percaya akan suara itu. Pemuda itu melepas genggamannya dan ternyata dasar tanah itu tidak jauh dari kakinya. Ia pun selamat.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, pada hari ini kita mendengar bacaan Injil dari Yohanes tentang percapakan Yesus dengan Nikodemus. Dalam percakapannya, Yesus seperti mengatakan hal-hal tentang kelahiran kembali. Akan tetapi, Nikodemus seolah tidak percaya sehingga ia mempertanyakan hal itu kepada Yesus, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” (Yoh. 3: 9). Nikodemus mempertanyakan akan hal itu padahal dia percaya akan Yesus, akan segala pengajaran-Nya. Nikodemus bukanlah seorang yang tidak terpelajar. Dia termasuk orang yang terpelajar, bahkan dikatakan dalam Injil, ia adalah seorang pemimpin agama Yahudi (Yoh. 43: 1).

Lalu mengapa hal seperti itu tidak dimengerti olehnya? Apakah Nikodemus meragukan Yesus yang melakukan hal tersebut? Yesus pun mengatakan hal yang cukup keras kepada Nikodemus, “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?” (Yoh. 3: 12). Hal ini ingin dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus bahwa, hal yang terindra saja tidak dipercayainya, bagaimana dengan hal yang tidak terindra?

Apa yang dirasakan dan dialami oleh Nikodemus mungkin saja kita alami. Mungkin kita meragukan dan bahkan tidak percaya kepada Tuhan. Mungkin tentang hal apa pun yang ada di dalam hidup kita. Memohon sesuatu di dalam doa dan merasa doa tidak dikabulkan, kita meragukan Tuhan. Melakukan sesuatu dengan sungguh dan tekun tetapi hasilnya tidak sesuai, kita meragukan Tuhan. Berharap akan sesuatu tetapi tidak pernah tercapai, kita meragukan dan kecewa kepada Tuhan.

Untuk sungguh-sungguh mempercayai seseorang mungkin terlihat mudah, tetapi sulit bila dilakukan. Ketika seseorang memberikan kepercayaannya kepada kita, mungkin kita juga tak langsung percaya, atau bahkan justru mencurigai motif di baliknya. Lalu apa sikap kita seperti itu juga kepada Tuhan yang menaruh kasih-Nya kepada kita? Imanlah yang mengatasi itu semua. Iman mengatasi yang terlihat dan yang tak terlihat. Sama seperti bacaan Injil hari Minggu lalu bahwa, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20: 29). [Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa]

Allah Bapa yang Mahabaik, terima kasih atas penyertaan-Mu selama ini. Terima kasih karena terus mendampingi kami. Bantulah kami dalam menghadapi segala cobaan dan kuatkanlah iman kami untuk selalu berharap kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.