Ada Juga Hidup Di luar Gadget

Minggu, 7 November 2021

PEKAN BIASA XXXII (H). St. Willibrordus; B. Maria Assumta Pallota

1Raj. 17:10-16

Mzm. 146:7.8-9a.9bc-10; Ibr.9:24-28

Mrk. 12:38-44

Hari ini dalam bacaan Injil kita mendengarkan narasi di mana Yesus memperingatkan orang-orang agar jangan sampai seperti ahli-ahli taurat yang suka memakai pakaian yang indah dan menerima penghormatan namun di sisi yang lain melakukan beragam perbuatan yang tidak terpuji, selanjutnya narasi dilanjutkan dengan ajaran Yesus mengenai pemberian yang total seperti yang dilakukan seorang janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya dalam peti persembahan. Apa yang coba diajarkan Yesus jelas merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan namun sangat sesuai dengan apa yang kita alami saat ini.

            Saat ini kita hidup di dunia yang sarat dengan komunikasi yang begitu cepat. SAat ini seluruh orang dapat mengetahui beragam perkembangan yang terjadi di belahan dunia yang lain hanya dengan menggerakan jari di atas gadget. hanya dengan ketukan jari seseorang dapat mengetahui kabar sesamanya dan apa yang terjadi dan dialami. Namun dibalik nilai positif yang terdapat pada gadget masih terdapat dampak lain yang kerap dilakukan namun tidak disadari, hal tersebut ialah kebiasaan untuk mengungkapkan beragam hal entah itu positif maupun negatif atau bahkan keluhan-keluhan dalam jejaring media sosial yang kita miliki. Tidak dapat dipungkiri bahawa sebagai mahkluk sosial kita memiliki kebutuhan untuk mendapat perhatian, namun tanpa kita sadari kebutuhan tersebut kerap kita penuhi dengan cara yang tidak sesuai yakni dengna cara memposting beragam kekesalan, keluhan-keluhan, postingan yang mengandung unsur sara, menggosipkan orang lain, mengupload beragam keburukan tentang orang-orang di sekitar kita, dll. Tanpa kita sadari melalui perangkat elektronik dan media sosial yang kita miliki kita mengubah diri kita menjadi “ahli-ahli taurat” di dunia moderen, yakni mereka yang oleh Yesus di sebut sebagai orang-orang yang mengharapkan untuk dihormati sedemikian rupa namun sejatinya menyusahkan orang lain dan bahkan menindas mereka yang tertindas.

            Melalui Injil hari ini kita diingatkan oleh Yesus agar kita dapat bertindak selayaknya apa yang diperbuat oleh seorang janda miskin, yakni memberikan apa yang kita punya. Memberi tentu bukan sekedar memberi materi belaka. Memberi dapat pula diartikan dengan memberikan apa yang bukan materi entah itu dukungan, kepedulian, perhatian, kasih, dll pada sesama kita. Namun yang coba di tekankan ialah bagai mana kita memberikan semuanya itu secara utuh, yakni kita memberikan segalanya tanpa mengharapkan balasan ataupun imbalan dari mereka yang kita beri, atau dengna kata lain memberi secara tulus.

            Keberadaan media sosial yang bertujuan mendekatkan kita dengan sesama kita pada kenyataannya tidak jarang menjadi sarana yang merenggangkan relasi kita dengan sesama kita. Melalui media sosial kita dapat mengungkapkan segalanya hingga kita lupa dengan orang-orang yang berada di sekitar kita, kita lupa dengan orang-orang terdekat kita yang mungkin membutuhkan perhatian kita, membutuhkan kehadiran kita. Hari ini kita diajak untuk dapat sadar bahwa kehidupan tidak hanya terjadi dalam media sosial belaka, namun ada di sekitar kita yakni dalam rupa orang-orang yang ada di sekitar kita, orang-orang terdekat kita, keluarga, ayah-ibu, kakak-adik, saudara, sanak-keluarga, sahabat, teman, dll. Karenanya marilah kita mencoba menunjukan kehadiran kita secara nyata pada mereka yang ada di sekitarkita sehingga kita dapat memberikan apa yang ktia miliki secara utuh pada mereka yang ada di sekitar kita seperti apa yang di lakukan oleh janda miskin yang memberikan segalanya sebagai persembahan. Tuhan memberkati.

Fr. Dismas Aditya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.