Mulia mana? Dunia? Surga?

Rabu, 17 November 2021

Pekan Biasa XXXIII

P.W. St. Elisabeth dari Hungaria, Biarawati

Bacaan I          : 2Mak. 7: 1.20-31

Bacaan Injil     : Luk. 19: 11-28

Yang penting aku senang dan bahagia”. Kecenderungan manusia adalah mencari kenyamanan, kenikmatan, serta kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Akibatnya kadangkala kita tidak menghiraukan orang lain di sekitar kita. Benar bahwa kita berhak mengalami kebahagiaan. Akan tetapi, kadang kita lupa bahwa dalam hidup kebahagiaan kita tidak pernah lepas dari relasinya dengan orang lain. Maka, kita perlu melihat hal lain yang lebih tinggi derajatnya dan lebih mulia dibandingkan dengan hanya mengejar kebahagiaan diri sendiri, yakni kebahagiaan bersama. Bahkan esktremnya kebahagiaan orang lain.

            Pada hari ini, bacaan dari kitab kedua Makabe dan Injil Lukas mencoba menggambarkan bahwa ada yang lebih tinggi dan lebih mulia dari sekedar segala perkara yang ada di dunia. Pada Injil Lukas seringkali kita seperti hamba ketiga yang diberikan mina oleh Tuannya. Bukan mengembangkan mina yang sudah dipercayakan Tuannya kepada hamba, namun justru kita bertanya-tanya untuk apakah mina ini dan tidak percaya kepada Tuan.

            Mina ini diibaratkan sebagai karunia yang diberikan Tuhan kepada ktia manusia. Karunia itu diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Tuhan memberikan karunia dengan keunikannya masing-masing. Karunia yang diberikan-Nya adalah karunia untuk mewartakan Kasihnya. Kadangkala kita tidak menyadari bahwa kita sudah menerima karunia yang sudah diberikan oleh Tuhan. Bahkan kita menuntut untuk diberikan karunia yang lebih. Atau mungkin kita bertanya, untuk apakah karunia yang sudah saya terima ini. Bahkan ketika kita menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan karunia itu, kita tidak mengembangkan karunia itu. Atau mungkin kita hanya menggunakan karunia itu untuk kebahagiaan dan kenikmatan duniawi saja. Padahal adalah yang lebih tinggi dan lebih mulia dari sekadar kebahagiaan dan kenikmatan duniawi, yakni Tuhan sendiri yang memberikan karunia kepada kita.

            Saudara-saudari terkasih, marilah kita kembali menyadari dan melihat bahwa apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita pada akhirnya akan kembali lagi kepada-Nya. Jangan kita berpikir bahwa kita akan memilikinya selamanya. Jangan kita berpikir bahwa apa yang kita dapatkan di dunia itu adalah sesuatu yang kekal. Satu-satunya yang kekal adakah Kasih Tuhan yang dengan tanpa menimbang-nimbang memberikan karunia kepada kita. Maka dari itu, marilah kita semakin melihat bahwa ada yang lebih mulia dari sekedar perkara duniawi, hal-hal dunia. Perkara surgawi, hal-hal surgawi adalah sesuatu yang lebih mulia dan yang seharusnya kita kejar saat ini. Karena pada akhirnya kita akan kembali kepada yang memberikan hidup dan karunia itu sendiri.

Fr. Constantin Reynaldo Adja Mosa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.