Makna Kebangkitan

Sabtu, 20 November 2021

PEKAN BIASA XXXIII (H)

St. Feliks dr Valois; St. Edmund

1Mak. 6:1-13;

Mzm. 9:2-3.4-6.16b.19;

Luk.20:27-40

Apa itu Kematian? Itulah akhir kehidupan duniawi. Kehidupan di dunia ini bersifat fana, tidak kekal. Orang Jawa bilang: Urip iku mung mampir ngombe (hidup ini hanya singgah untuk minum, artinya sebentar saja). Dalam pandangan kristiani kematian tidak berarti lenyapnya kehidupan manusia, sebab kematian adalah pengalaman yang membawa harapan kepada kebangkitan dan kehidupan abadi. Kematian adalah gerbang atau pintu menuju kehidupan baru yang berbeda dari kehidupan manusia di dunia.

Kematian bukanlah akhir dari segala-galanya tetapi merupakan suatu perjalanan menuju kediaman abadi dalam rumah Bapa. Untuk menyediakan tempat bagi kitalah, Kristus harus meninggalkan dunia ini dan wafat di salib. Dengan demikian, kematian merupakan perjalanan pulang dari perziarahan menuju pangkuan Bapa. Bapa menanti kita semua untuk berkumpul dalam kerajaan-Nya sebagai anak dan Bapa, dan memerintah bersama Dia untuk selama-lamanya.

Sebagai umat beriman kita percaya bahwa melalui kematian, hidup kita hanyalah diubah, bukan dilenyapkan; bahwa suatu kediaman abadi tersedia bagi kita di Surga. Inti dari iman Kristiani adalah Kebangkitan Kristus. Kristus diutus menjadi satu dalam kita. Satu dalam kematian dan satu dalam kebangkitan. Inilah prinsip “solidaritas”, yang Kristus tekankan kepada kita umat yang dikasihinya. Jika kita percaya bahwa Kristus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia di Surga. Kita diselamatkan dalam pengharapan. Kebangkitan tidak dimaksudkan sebagai hidup kembali seperti kisah Lazarus (resusitasi), tetapi kebangkitan adalah kemenangan atas maut.

Yesus tidak minta supaya dibangkitkan sesudah wafatnya. Ia menyerahkan diri ke dalam tangan Allah dan yakin bahwa itu berarti keselamatan-Nya. Maka, kebangkitan juga tidak berarti “hidup kembali”, melainkan diterima oleh Allah. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan yang kita bangun. Jika Kristus tidak dibangkitkan sia-sialah iman dan pengharapan kita selama ini. Tetapi nyatanya Ia bangkit dan menampakkan pada para murid. Apabila Kristus diterima, maka diterima pula semua yang mengabungkan dan menyerahkan diri Kepada-Nya.

Fr. Mikael Galih Pradana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.